Sunday, 25 February 2018

Keluarga Hanyalah Tentang Saling Bekerjasama
Setiap pasangan yang hidup dalam naungan rumah tangga memang memliki ciri khas yang berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Entah dalam hal menjaga hubungan mereka atau cara mereka mengurus anak-anak mereka. Jangankan beda orang, antara ibu dan anak saja bisa sangat berbeda bagaimana mereka menjaga rumah tangganya. Sayapun merasakannya juga dengan apa yang disebut dengan rumah tangga ini sejak tahun 2013 lalu. Hampir 5 tahun sudah saya hidup dengan orang lain dalam satu rumah. Tentu saja banyak hal yang berbeda diantara kami dan tentu saja pernah ada perasaan-perasaan canggung lainnya dalam rumah tangga kami.

Ini kita, lagi selfie, selfie yang jarang-jarang banget haha


Namun, dengan semua itu, setidaknya kami atau lebih ke saya aja  ya hahhaa.. Saya selalu belajar bagaimana rumah tangga seharusnya berjalan. Hanya beberapa kunci saja biar rumah tangga itu jadi adem ayem dan terasa sangat harmonis. Apalagi saya yang gak pernah LDR'an sama suami. Pernah sih ditinggal seminggu waktu suami mudik ke Kalimantan, dan itu rasanya Rinduuu banget haha.. Ada yang beda aja dengan suasana rumah kala gak ada suami yang biasanya selalu dirumah.

Monday, 23 October 2017

Menjadi Bodoh Itu Perlu
Sejak dahulu, saya kadang berpikir kalau saya ini orang yang enggan bersentuhan langsung dengan orang-orang pinter. Saya enggan deket-deket sama mereka. Apalagi kalau saya melihat orang tersebut berbeda dengan saya, baik secara pemikiran ataupun secara visi misi. Saya lebih memilih topik-topik yang ringan dan sama sekali tidak penting untuk dibahas saat bertemu yang memang tidak sering. Pertemuan yang kadang membuat suasana menjadi sangat kaku dan entahlah, kehilangan ide untuk memulai pembicaraan.



Malah, kadang saya justru merasa sangat nyaman dengan orang-orang yang saya anggap sama dengan saya, merasa bodoh dan gak ngerti sama sekali. Rasanya ngobrol sama mereka itu asik, entah sama-sama bodohnya atau sama-sama oon-nya. Yang jelas, ada kesamaan disana.

Yang bikin gak nyaman lagi, ketemu sama pribadi yang terkesan 'menggurui' dan menganggap kita bodoh. Aneh memang, senang berkumpul sama orang-orang yang terlihat bodoh tapi gak mau dikatain bodoh haha.

Friday, 8 September 2017

Sederhananya Menciptakan Kebahagiaan
Sebagai manusia, tentu sangat banyak hal yang membuat kita tertawa dan menangis. Banyak hal yang bisa membuat kita bahagia meskipun hal tersebut bukanlah sesuatu yang besar. Kebahagiaan itu sebenarnya sederhana banget, kalau kita tidak menuntut banyak hal yang diluar kemampuan kita. Kalau kita tidak menuntut banyak gaya diluar yang kita bisa.



Mungkin dengan hal-hal yang remeh temeh saja kita bisa bahagia dan tersenyum. Ya.. mungkin kejadian seperti melihat anak bermain dan melakukan hal-hal polos lainnya juga bisa membuat seseorang bahagia. Atau bisa jadi diajakin pasangan makan mie ayam atau pecel di pinggir jalan juga bisa menciptakan kebahagiaan.

Wednesday, 30 August 2017

Asuransi, Benarkah Pembawa Senyum Ditengah Duka?
Setiap orang pasti memiliki keinginan untuk selalu sehat dan dalam keadaan yang baik-baik saja, termasuk juga saya. Ada banyak sekali cara yang ditempuh agar kita selalu sehat dan jauh dari bahaya. Dari berhati-hati dalam melakukan apapun sampai kadang lupa juga sih kalau sudah mulai ceroboh. Kadang juga kita gak sadar kalau gaya hidup juga mempengaruhi kesehatan diri. Tapi terkadang kita mah gitu, sesuka-sukanya aja masukin makanan dalam perut tanpa mempertimbangkan dampak apa yang bakal terjadi nanti. Namanya manusia kan ya.. jadinya kadang banyak lupanya hehe.

Saya dan Rini saat jalan-jalan ke Tanah Lot, Bali

Nah sebenarnya nih, saya mau ngomongin tentang salah satu metode yang banyak banget dipilih sama orang-orang untuk menjaga kesehatan dan keselamatannya, asuransi. Istilahnya buat jaga-jaga gitu deh. Jadi.. ceritanya dulu pas saya ada di Bali, saya dan sahabat saya Rini suka jalan keluar saat hari libur. Ngunjungin tempat-tempat wisata yang ada di Bali mumpung ada disana jadinya tiap hari libur kerja dan ada waktu luang kami pergi buat explore Bali dari ujung ke ujung. Meskipun dalam waktu 1,5 tahun rasanya saya belum tuntaskan semua, tapi tak apalah.. saya bersyukur banget karena punya sahabat yang kuat banget naik motor dan siap jalan kemana aja kayak Rini ini.

Monday, 28 August 2017

Suka Nyisain Makanan? Kalian Gak Keren!
Fenomena makan ditempat umum dan masih ada sisa makanan didalam piring yang artinya makanan tersebut boleh dibuang masih saja saya temui dibeberapa tempat. Contohnya saja kemaren waktu datang ke hajat salah satu saudara yang tinggal di desanya Emak. Saya melihat banyak sekali orang yang dengan sengaja nyisain makanannya di piring. Padahal makanan yang dikasih sama yang punya rumah cuma sedikit, gak ada satu sendok nasi deh kayaknya. Saya sendiri kalau makan dirumah juga bakalan nambah 2 kali lah haha, kurang porsi segitu. Sementara saya dan Abi-nya Kinza kerjasama menghabiskan makanan Kinza yang emang udah dikasih porsi sendiri.



Di desa, tradisi kondangan belum sekeren di kota yang prasmanan dan ngambil semua makanan sendiri. Kebanyakan orang desa masih mengikuti cara dan kebiasaan masing-masing. Saat kamu datang untuk bertamu, orang-orang yang membantu di dalam hajat tersebut akan melayani kamu dengan air teh dan disusul dengan seporsi kecil nasi rawon atau nasi soto biasanya. Nah.. di moment itulah barang-barang mubazir dimulai. Dulu, didesa masih menggunakan teh yang dibuat sendiri didapur sang punya rumah, namun sekarang nampaknya udah mulai maju, pakai teh gelas. Yaaa.. sebenarnya saya lebih menyukai air putih sih :D.

Tuesday, 15 August 2017

Sebenarnya, Ada Banyak Hikmah Didalam Kesabaran
Beberapa kali saya mengalami kejadian-kejadian yang membuat saya belajar mengerti sesuatu yang ternyata itu baik untuk saya. Sesuatu yang saya merasa kurang sabar ngejalaninya dan bahkan mungkin banyak emosinya hehe. Padahal, sudah jelas-jelas kesabaran itu bakal membuahkan banyak hasil yang baik. Allah saja menyuruh kita untuk menjalani hidup dengan sabar dan sukur kan ya..


Nah kali ini.. saya akan cerita apa saja kejadian akhir-akhir ini yang membuat saya sadar, bahwa saya memang kurang sabar dalam banyak hal.

Saturday, 1 July 2017

Hello July, Ngomongin Prinsip Hidup Yuk
Iya prinsip! Sebenarnya banyak yang tanya dan ngebully saya dalam banyak hal dan sebenarnya juga saya ga ngerti-ngerti banget tentang apaan sih prinsip ini. Maklum, pengetahuan saya tentang kosakata kata-kata tingkat tinggi emang gak begitu bagus. Tapi apalah sekarang, media online sudah bisa diakses kapanpun dan dimanapun. Sebagai orang yang berpikir dan punya pikiran, saya juga melakukan apa yang seharusnya orang mikir lakukan, mencari tau :D.



Prinsip menurut KBBI adalah, asas (kebenaran yang menjadi pokok dasar berpikir, bertindak, dan sebagainya); dasar;

Nah dari sini kita tarik garis besarnya aja, prinsip hidup adalah pemikiran dasar seseorang dalam menjalani kehidupan, menurut saya. Dulu, saya memang kurang ngerti cara mengaplikasikan sebuah prinsip dalam hidup saya seperti apa. Saya terkesan bingung dan rancu dalam pengartiannya. Padahal, sangat mudah sekali menjalankan sebuah prinsip jika kita konsisten dan gak mudah gamang.

Sunday, 11 June 2017

Ketika Kamu Ngerasa Lebih Baik dari Orang Lain
Pernah? Ngerasa lebih cantik, lebih pinter, lebih sholeha atau lebih-lebih lainnya dari orang lain?

Pernah ngerasa lebih baik dari orang lain yang lebih spesifiknya adalah sainganmu dalam banyak hal. Entah itu didunia asmara atau dunia yang lainnya? Tapi bukan dunia lain ya haha...



Sebagai manusia, jujur sih, saya pernah sekali kali ngerasa lebih baik dari orang lain. Saya ngerasa lebih pinter dan lebih bisa dari orang tersebut. Padahal, kenyataannya mungkin saya jauh-jauh sangat jauh lebih bodoh dari orang yang saya remehin tersebut. Dan saya tahu, ini adalah penyakit hati yang gak boleh sering-sering muncul di muka kehidupan kita, gak boleh sama sekali.

Adakalanya, ego ini terlalu tinggi dan mudah sekali merendahkan orang lain. Padahal, orang yang paling buruk adalah orang yang sombong dan ngerasa dirinya paling hebat.

Thursday, 4 May 2017

Berkomunitas, Negatif dan Positif yang Saya Dapatkan
Wow Something! Setelah saya keluar dari sebuah group yang saya ikutin beberapa tahun lalu tanpa pernah menghapus chat yang sudah ada, handphone saya langsung mati saat saya delete group tersebut. Saking banyaknya chat yang anggota group dan ya.. begitulah. Sejak dulu, saya kurang suka mengikuti sebuah komunitas blogger. 



Tapi belakangan, saya tertarik untuk ikut karena  salah satu komunitas blogger tersebut memberikan banyak manfaat dan tentu saja ngasih banyak job kepada saya. Komunitas yang menurut saya gak pilih kasih dan memang dinilai dari kwalitas blog bukan karena kedekatan admin dengan para anggotanya.

Menjadi anggota komunitas yang netral dan biasa saja dalam artian tidak terjun terlalu dalam kepada tetek bengeknya memang sedikit butuh keberanian. Saya selalu mematuhi peraturan yang komunitas blogger berikan. 

Tuesday, 25 April 2017

Buruknya Majelis Ghibah
Sebagai orang yang harus bersosialisasi, saya gak bisa dengan mudah menghindari atau menolak sesama yang suka atau terbiasa ngomongin orang. Saya sendiri sebenarnya dulu juga penghobi gosip-gosip selebritis yang nongol di tipi.



Bahkan, kalau gak nonton acara gosip tertentu mesti ada yang kurang di hari itu. Dan sudah puluhan kali bahkan lebih saya kengatakan, sejak menikah saya seakan asing dengan hal-hal seperti itu.

Thursday, 16 March 2017

Jangan Hanya Memandang Keatas, Nak
Setiap hari, ada saja yang membuat saya belajar dari Kinza. Dari belajar melatih kesabaran yang belum juga berhasil sampai belajar menyikapi semua kelakuannya yang kadang membuat saya pengen berteriak. Kinzaaa.... Namun harus saya tahan, gimana tuh rasanya mau teriak tapi ditahan-tahan, ya kayak mau pipis tapi gak boleh pipis gitulah, bingung haha.

Saya salut banget sama seorang blogger yang sabar banget ngurusin anaknya yang memiliki kebutuhan kusus. Dia telaten banget ngerawat anaknya, sangat sabar. Rasa syukurnya gak pernah berhenti, mesti mungkin ada kalanya dia merasa sangat lelah dengan ujian itu, namun kelelahan tersebut tak pernah ditampakkan didepan orang lain. Sedangkan saya dan juga ibu-ibu yang sudah diberikan nikmat berupa kesehatan dan tumbuh kembang anak yang sangat baik, masih saja suka marah-marah. Seperti orang yang gak bisa bersyukur dengan nikmat tersebut.



Memandang Keatas, Membuat Kita jadi Pribadi yang Kurang Bersyukur


Awalnya, saya kepikiran untuk menulis hikmah yang saya dapatkan hari ini saat melihat Kinza mencari kerupuk yang tadi pagi kami beli di pasar. Kinza memang suka banget sama kerupuk, tapi kayaknya tenggorokannya Kinza itu ngikut-ngikut Abi-nya, tenggorokan kemayu alias mudah sekali radang. Nah.. saking sukanya sama krupuk, dia pasti mau nambah lagi pas krupuk ditangannya udah habis, maksudnya itu, season 1 dan mau lanjutin yang season 2 haha.

Sunday, 12 March 2017

Sahabatku Bertanya Tentang Hijab
"Niat baik, ayo disegerakan.. Jangan ditunda-tunda"

Begitu saya berkata kepada sahabat saya yang tinggal di desa karena menanyakan hal yang paling membuat saya bersemangat membahasnya, tentang Hijab. Dia bercerita, tentang keinginannya konsisten untuk mengenakan kerudungnya, namun karena beberapa hal, keinginan tersebut masih selalu ditunda-tunda.

Salah satu perwujudan tentang konsisten menggunakan jilbab adalah adanya hidayah yang datang kepada seseorang. Hidayah dari Allah yang membuat kita mudah sekali melakukan kebaikan demi kebaikan. Dan semua itu wajib kita syukuri jika saat ini, kita sudah memilikinya.

Sahabatku Bertanya Tentang Hijab
Saya di Pantai Senggigi, Lombok


Yang kedua adalah tentang niat dan keinginan dalam diri sendiri bagaimana bisa mewujudkan itu semua. Karena sebenarnya, masalahnya bukan datang dari orang lain, tapi dari dalam diri. Akan ada saatnya, seseorang mantab berjilbab tanpa ngurusin apa kata orang lain. Itu murni keinginan diri atas dorongan kebaikan. Disana, jika kita sudah pernah ngrasain gimana ademnya pake jilbab, saya yakin seyakin yakinnya.. pasti susah untuk melepasnya kembali.

Yang ada, semakin lama akan semakin lebar dan menjulur kebawah jilbab yang kita kenakan. Pernah suatu waktu saya kena skak oleh omongan teman disalah satu media sosial. Dan si teman ini memang sudah pakai jilbab panjang. Waktu itu, saya masih baru saja menggunakan jilbab yang alakadarnya. Bahkan pakaian yang saya gunakan masih jins dan kaos-kaos yang lumayan nempel di badan. Masa transisi butuh waktu, apalagi dulu saya gak punya uang banyak buat beli gamis-gamis syar'i atau mengganti celana jins saya dengan rok-rok panjang, saya sudah berniat tapi saya masih belum punya uang untuk membantu niat saya ini.

Disana teman saya menegaskan "Jilbab dan kerudung itu beda lho". Duh... Rasanya saya mati rasa, serasa diejek dan direndahkan dan seolah dia gak ngasih kesempatan kepada saya untuk berubah dan memang harus membutuhkan waktu. Memang sih beda sama dia yang udah punya penghasilan besar. Ya.. saya kan gak pernah sekolah gitu, jadi kerjaan ya cuma jadi babu aja hahaha.

Thursday, 23 February 2017

Yang Paling Dekat Itu, Kematian
Dua hari yang lalu, saya dikejutkan dengan kabar meninggalnya suami seorang sahabat saya waktu di Bali, Mbak Nurul. Selama kenal dengan Mbak Nurul, saya menilai Mbak Nurul adalah pribadi yang ramah dan mudah sekali tersenyum. Selain itu, dia juga orangnya sedikit takut dengan hal-hal baru, mengambil keputusan-keputusan yang berbeda. Mungkin karena dia mudah sekali segan dengan orang lain atau memang begitulah dia, seorang yang sedikit kurang berani meskipun itu penuh adalah haknya. Itu dulu, mungkin sekarang dia sudah berbeda, saya sudah tidak pernah bertemu dengannya sejak meninggalkan Bali tahun 2013 lalu untuk menikah.



Saya pernah bertemu dengan suami mbak Nurul ini sepertinya hanya satu kali. Waktu itu, suaminya yang ngantar Mbak Nurul untuk Liqo'. Suaminya masih muda, masih berumur dibawah 40 tahunan gitu. Namun takdir memang tidak bisa kita rubah, termasuk juga dengan kematian. Saya membayangkan bagaimana kalau saya yang berada di posisi mbak Nurul saat ini, hanya bayangan saja saya bahkan kurang sanggup. Tapi apalah kita, meyakini dan mengimani takdir adalah salah satu Rukun Iman yang harus dipercayai sebagai umat Islam.

Kematianlah yang Paling dekat dengan Kita


Tanpa kita sadari bahkan kita lupakan, bahwa kematian kita sebenarnya yang paling dekat dengan kita. Banyak hal yang kita lupakan untuk mengumpulkan sebanyak mungkin bekal perjalanan setelah mati. Bahkan saya, saya sendiri belumlah maksimal, belum ada apa-apanya dalam masalah bekal ini. Berlomba-lomba dalam hal duniawi, iri kepada orang yang lebih kaya, iri kepada orang yang lebih pandai, buat apa? Iri kepada mereka yang punya kepribadian sholih, sholiha, penghafal Al-qur'an dan mereka yang memiliki ilmu agama serta tak pernah berhenti belajar tentang agama dan Al-Qur'an, bukankah seharusnya kepada mereka hati ini iri?

Thursday, 16 February 2017

Mental Pengemis, Harus Dibunuh Sejak Usia Dini
Banyak sekali kita lihat orang-orang yang dengan mudahnya meminta belas kasih orang lain atau melakukan hal-hal remeh yang intinya itu minta. Dijalan-jalan, dalam bis, bahkan pernah saya lihat mereka memanfaatkan lubang kecil ditengah jalan untuk minta uang dari pengguna jalan. Atau memperkecil jalan raya agar mobil tidak bisa masuk dua yang akhirnya masuk bergantian dan harus membayar beberapa receh. Jangankan mereka, yang memiliki harta yang cukup dimata kita atau mereka yang memiliki jabatan dan pekerjaan yang lumayan saja masih suka meminta sesuatu kepada orang lain. Dikit-dikit minta, dikit-dikit mau dan semua sejenisnya.

Kinza Mahveen Ali


Dari sana saya mempelajari satu hal, mereka sudah memiliki mental pengemis. Dasarnya mental ini memeang sudah ada dan mungkin sudah terlatih sejak masih kecil, seremeh apapun pekerjaannya, intinya itu ya minta. Saya bahkan miris sekali melihat anak kecil yang dibiarkan oleh orang tuanya melakukan hal-hal ini. Sebenarnya, kita bisa saja "membunuh" mental pengemis ini, namun memang harus butuh perjuangan yang gak mudah, perjuangan dan kebiasaan.

Mulai dari diri sendiri


Dulu, saya selalu berkata kepada teman saya yang akrab banget saat Kinza masih kecil, setiap ia telpon saya, saya bilang "Sangune bude...". Saya mengumpamakan diri saya Kinza dan berharap dapat sangu saat bertemu. Meski konteksnya hanya bercanda, ternyata hal-hal yang seperti ini akan menimbulkan mental pengemis pada diri anak-anak kita. Suami saya selalu mengingatkan, bahkan saat itu saya kena marah karena meskipun cuma bercanda, jangan pernah dikatakan lagi. Dari sana saya menyadari, bahwa diri saya sendiri harus dididik dulu sebelum saya menerapkan kebaikan kepada anak-anak saya nanti.

Wednesday, 1 February 2017

Hamil? Siap-siap Dihujani Bully & Mitos Kehamilan dari Banyak Kalangan
Kehamilan saya yang kedua ini memang special. Banyak orang yang saya beritahu dan mereka mengeluarkan banyak sekali komentar-komentar yang kadang membuat saya tertawa. Memberitahu mereka, bukan berarti saya tidak tahu bahwa akan ada banyak sekali komentar-komentar miring yang bisa saja membuat Saya stres, saya tahu betul itu. Dari yang berkomentar biasa saja di depan saya sampai mereka yang entah ngomongin apa saja di belakang saya.



Tapi justru di sanalah sebenarnya peristiwa hamil ini menjadi salah satu peristiwa yang sangat istimewa. Dari mereka saya banyak belajar berbagai hal. Mulai dari tidak meyakini mitos-mitos yang tidak bisa dipikirkan dengan nalar sampai dengan ekspresi mereka yang luar biasa tentang kehamilan.

Sunday, 25 December 2016

Hikmah - Belajar Membiasakan Hal Baik
Kemaren, si Mas ngajakin saya bertemu dengan sahabatnya saat ia masih sekolah di Tebu Ireng. Awalnya mas Joo ragu-ragu mau dateng,

"Dateng gak dek?" Katanya, padahal udah ngasih tau kalau mau ngajakin saya dan Kinza buat ketemu sama temennya.

Kinza dan sahabat Abi-nya


"Lhoh gimana sih, kan mas yang pegang kendali, malah ragu sendiri" kata saya. Ya sudah akhirnya kami berangkat ke Tebu Ireng buat jumpa sama sahabatnya. Ada banyak hal yang saya pelajari disetiap pertemuan saya dengan orang-orang baru. Dari sosok orang baru sampai lingkungan yang saya datangi hingga kejadian-kejadian menarik yang gak bisa dilewatkan begitu saja. Saya, mempelajari semua dengan pikiran sederhana dan evaluasi diri untuk jadi lebih baik.


Si Anak sadar Sampah


Ya.. jangan sebut ini sesuatu yang jelek ya, anak sahabat suami saya ternyata peduli banget sama sampah. Badannya yang tambun dan murah senyum ini namanya Faruq. Beberapa kali bermain sama Kinza dan Kinza sendiri adalah anak yang supel -mungkin seperti saya haha- akhirnya mereka bermain sebentar. Usia Faruq mungkin sekitar 6-7 tahunan gitu. Kesadarannya akan sampah membuat saya belajar buat membiasakan anak-anak untuk selalu membuang sampah ditempatnya. Faruq mengambil sampah yang dibuang oleh tangan tak bertanggung jawab di dalam Masjid Terbuka depan SMP Tebu Ireng. Meski kata Bundanya Faruq adalah anak yang paling cuek dari ketiga saudaranya dalam urusan kebersihan, ternyata pengaruh keluarga di dalam rumah sangat menentukan sikap anak-anak diluar rumah.

Sesamai di rumah, saya sedikit malu dengan diri saya sendiri yang kurang perhatian dengan kerapian, akhirnya.. saya mulai peduli dengan barang-barang kecil yang membuat berantakan.

Budaya Antri, hal yang sulit diterapkan


Saya membayangkan ketika saya punya anak kecil dan kebelet pipis tapi gak ada yang mau ngalah saat di tempat umum. Jadi ceritanya kemaren saya mengalami hal ini. Hampir setengah jam saya antri di depan kamar mandi gara-gara diserobot beberapa kali. Kemudian hal lain yang membuat saya kagum dengan sangat berpengaruhnya kebiasaan kecil tentang toleransi ketika ada anak kecil usia sekitar 4 tahunan yang lagi kebelet pipis, gak dikasih kesempatan untuk masuk duluan. Ada 3 pintu kamar mandi disana, dan miris, para ibu-ibu itu bener-bener kayak gak pernah punya anak kecil.

Saya sendiri ngawasin dan senyum-senyum gak jelas. Jelas-jelas sekali budaya nyrobot antrian orang ini memang bisa dibilang tindakan gak punya malu. Istilahnya, mengambil bagian orang lain tanpa izin dan hanya kesadaran diri yang bisa membuatnya berubah. Kesabaran seolah gak bisa ditahan! kalau ngomongin kebutuhan, tentu saja semua orang butuh, saya malah mikirnya.. Orang-orang seperti ini akan menimbulkan banyak perdebatan dan bisa bikin berantem.

Membiasakan hal baik sejak sangat dini


Dari sana, ada keinginan kuat dalam diri saya untuk membuat anak saya tidak seperti mereka ketika dewasa. Toleransi dan mendahulukan hak orang lain, mendahulukan yang seharunya memang harus duluan serta bersikap sabar dan mengerti keadaan orang lain itu sangat penting. Empati dalam diri memang benar-benar harus dibentuk sejak sebelum ia bisa membaca dan kenal huruf. Budi pekerti dan akhlaklah yang utama, bukan yang lain.