Namun, renovasi bertahap membutuhkan perencanaan. Area yang menghasilkan banyak debu, melibatkan instalasi listrik, atau berpotensi mengganggu akses penghuni sebaiknya memiliki jadwal tersendiri.
Renovasi yang dilakukan sembarangan juga dapat meningkatkan risiko kecelakaan, seperti terjatuh dari tangga, tertimpa material, terluka oleh alat kerja, atau mengalami sengatan listrik.
Karena itu, aspek keselamatan perlu diperhatikan sejak awal, termasuk menyiapkan perlindungan finansial yakni asuransi kecelakaan untuk menghadapi risiko cedera akibat kejadian tidak terduga. Berikut tujuh bagian rumah yang dapat diprioritaskan untuk renovasi bertahap.
1. Atap dan Plafon
Atap sebaiknya menjadi salah satu prioritas apabila sudah mengalami kebocoran, genteng bergeser, atau terdapat tanda-tanda kerusakan pada rangka. Menunda perbaikan dapat membuat air merembes ke plafon dan dinding sehingga kerusakannya semakin luas.
Renovasi dapat dimulai dari titik yang paling bermasalah tanpa membongkar seluruh atap. Setelah area tersebut aman, penghuni masih dapat menggunakan ruangan lain seperti biasa.
Perbaikan sumber masalah juga penting. EPA merekomendasikan agar penyebab kerusakan akibat kelembapan dicari dan diperbaiki terlebih dahulu, bukan hanya menutup bagian permukaan yang rusak. Kelembapan yang tidak ditangani dapat berkontribusi terhadap pertumbuhan jamur dan kerusakan material rumah.
2. Kamar Mandi
Kamar mandi merupakan area yang relatif mudah direnovasi secara bertahap karena pekerjaan dapat difokuskan pada satu bagian, misalnya lantai, dinding, saluran air, atau ventilasi.
Jika hanya memiliki satu kamar mandi, perencanaan waktunya perlu lebih ketat. Usahakan pekerjaan dilakukan dalam durasi sesingkat mungkin atau selesaikan bagian yang paling penting terlebih dahulu agar kebutuhan dasar penghuni tetap terpenuhi.
Ventilasi juga tidak boleh diabaikan. EPA menjelaskan bahwa ventilasi kamar mandi membantu mengurangi kelembapan dan mencegah kondisi yang mendukung pertumbuhan jamur serta lumut. Exhaust fan idealnya membuang udara langsung ke luar rumah, bukan ke loteng atau ruang tertutup lainnya.
3. Dapur
Dapur bisa direnovasi dengan sistem zona. Misalnya, kabinet dan area penyimpanan dikerjakan terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan ke backsplash, lantai, atau meja dapur.
Strategi ini membuat sebagian fungsi dapur tetap dapat digunakan selama renovasi. Jika memungkinkan, area memasak sementara dapat dipindahkan ke ruang lain hingga pekerjaan utama selesai.
Selain tampilan, ventilasi perlu menjadi pertimbangan. Aktivitas memasak menghasilkan kelembapan, bau, dan polutan sehingga EPA merekomendasikan penggunaan range hood yang membuang udara ke luar.
4. Kamar Tidur
Kamar tidur sebaiknya direnovasi satu per satu, terutama jika rumah memiliki beberapa kamar. Dengan demikian, penghuni masih mempunyai tempat tidur dan ruang pribadi yang dapat digunakan selama pekerjaan berlangsung.
Renovasi kamar tidur bisa dimulai dari perbaikan dinding, plafon, lantai, pencahayaan, hingga penggantian jendela. Pekerjaan yang menghasilkan banyak debu sebaiknya dilakukan ketika penghuni dapat menggunakan kamar lain sebagai tempat sementara.
Untuk rumah yang cukup rapat dan minim sirkulasi udara, perbaikan ventilasi juga dapat menjadi bagian dari renovasi. EPA menyebutkan bahwa ventilasi yang tidak memadai dapat membuat polutan dalam ruangan menumpuk dan memengaruhi kenyamanan maupun kualitas udara.
5. Ruang Keluarga
Ruang keluarga biasanya menjadi salah satu area dengan aktivitas paling tinggi sehingga renovasinya sebaiknya dilakukan setelah bagian yang lebih mendesak selesai.
Jika lantai atau dinding perlu dibongkar, pekerjaan dapat dibagi menjadi beberapa sisi. Misalnya, furnitur dipindahkan ke bagian yang belum dikerjakan, kemudian area renovasi ditutup agar debu tidak menyebar ke seluruh rumah. Untuk pekerjaan yang menghasilkan banyak debu, pekerja juga perlu menggunakan perlindungan pernapasan yang sesuai. Salah satu perlengkapan yang dapat dipertimbangkan adalah respirator 3m, dengan jenis dan tingkat perlindungan disesuaikan dengan material serta paparan yang dihadapi.
EPA merekomendasikan penggunaan penghalang fisik seperti lembaran plastik untuk membatasi penyebaran debu dan polutan dari area kerja ke ruangan lain. Ventilasi pembuangan juga dapat membantu mengeluarkan polutan dari area renovasi.
6. Jendela dan Pintu
Penggantian jendela dan pintu dapat dilakukan per ruangan sehingga penghuni tidak kehilangan akses ke seluruh rumah sekaligus. Prioritaskan bagian yang sudah sulit ditutup, mengalami kebocoran udara, atau tidak lagi memberikan perlindungan yang baik dari cuaca.
Selain meningkatkan kenyamanan, perbaikan celah pada pintu dan jendela juga dapat membantu mengurangi kebocoran udara. Departemen Energi AS menjelaskan bahwa air sealing melalui caulking dan weatherstripping dapat mengurangi kebocoran udara, meningkatkan kenyamanan, serta membantu efisiensi energi.
7. Instalasi Listrik
Instalasi listrik perlu masuk daftar prioritas jika terdapat kabel rusak, stopkontak bermasalah, sambungan tidak aman, atau kapasitas instalasi sudah tidak sesuai kebutuhan rumah.
Berbeda dari pekerjaan kosmetik seperti mengecat dinding, renovasi listrik sebaiknya tidak dilakukan sekadar berdasarkan tampilan. Bagian yang bermasalah perlu diperiksa terlebih dahulu dan pekerjaan kelistrikan yang berisiko sebaiknya ditangani tenaga yang kompeten.
Renovasi dapat dilakukan per area agar penghuni tetap memiliki akses listrik di bagian rumah yang belum dikerjakan. Setelah satu zona selesai dan dinyatakan aman, pekerjaan dapat dilanjutkan ke zona berikutnya.
Renovasi Bertahap Tetap Membutuhkan Strategi
Renovasi rumah sambil tetap tinggal di dalamnya pada dasarnya adalah masalah pengaturan prioritas. Bagian yang berkaitan dengan kebocoran, kelembapan, struktur, ventilasi, dan instalasi berisiko sebaiknya didahulukan dibandingkan pekerjaan yang hanya bertujuan memperbarui tampilan.
Selain itu, jangan menganggap debu renovasi sebagai gangguan kecil. NIOSH mencatat bahwa proyek konstruksi dan renovasi pada bangunan yang tetap dihuni dapat menimbulkan persoalan kualitas lingkungan dalam ruangan, termasuk akibat kurangnya pengendalian debu dan material dengan emisi tinggi.
Karena itu, setiap tahap sebaiknya memiliki batas area kerja, jadwal yang jelas, serta strategi untuk menjaga ruangan lain tetap bersih dan dapat digunakan. Dengan pendekatan tersebut, renovasi tidak harus membuat penghuni meninggalkan rumah sepenuhnya, sekaligus membantu memastikan perbaikan dilakukan berdasarkan kebutuhan dan tingkat urgensinya.







