"Apa kabarnya Aku, apakah kamu sudah mulai terbiasa dengan riuh rendahnya suara di rumah ini?"
Atau mungkin pertanyaannya seharusnya, "Apakah hatimu sudah cukup lapang untuk menampung segalanya hari ini?" Karena jujur saja, hidup dalam satu atap bersama orang tua atau mertua, sembari membesarkan anak-anak yang sedang aktif-aktifnya, bukanlah sebuah perkara yang bisa diselesaikan hanya dengan kata "sabar."
Dulu, saya mungkin termasuk orang yang sering membatin saat melihat adik saya begitu reaktif ketika anaknya dibanding-bandingkan oleh ibunya. Saya sempat menganggapnya sedikit "lebay."
Saya pikir, ah, namanya juga orang tua, paling cuma bicara saja. Tapi ternyata, semesta punya cara unik untuk memberi pelajaran. Kini, ketika saya sendiri yang berada di garis depan, merasakan bagaimana rasanya anak sendiri dikomentari, dimarahi, bahkan dibandingkan dengan cucu yang lain... barulah saya paham.
Ternyata, jika sudah menyangkut anak, setebal apa pun telinga kita, hati tetap saja bisa teriris.
Tinggal di rumah orang tua/mertua atau dalam kasus banyak orang, mertua adalah sebuah seni navigasi yang sangat rumit. Di satu sisi, ada rasa syukur karena masih bisa berbakti dan dekat dengan keluarga. Namun di sisi lain, ada benturan ego, perbedaan pola asuh (parenting), dan batas-pembatas yang sering kali kabur.
Rumah saya setiap harinya tidak pernah sepi. Anak-anak saya adalah tipe yang super aktif, mereka adalah definisi dari "energi yang tidak ada habisnya." Bagi saya sebagai ibunya, keramaian itu adalah tanda mereka sehat dan bahagia.
Tapi bagi orang tua yang sudah memasuki usia senja, yang mungkin mendambakan ketenangan, keramaian ini sering kali dianggap sebagai "gangguan."
Sering kali, saya harus menahan napas saat mendengar suara tinggi mbahnya memarahi anak-anak hanya karena hal sepele. Rasanya ada sesuatu yang bergejolak di dada sebuah insting protektif seorang ibu yang ingin berteriak, "Jangan marahi mereka seperti itu!"
Lebih menyakitkan lagi adalah ketika "senjata" perbandingan mulai dikeluarkan. "Lihat itu cucu yang sana, anteng, nurut, nggak kayak anakmu yang pecicilan."
Kalimat sesederhana itu dampaknya luar biasa. Ia tidak hanya melukai harga diri saya sebagai orang tua, tapi juga perlahan bisa merusak konsep diri anak jika mereka terus-menerus mendengarnya.
Saya tersadar, ini bukan soal lebay atau tidak, ini soal menjaga kewarasan dan menjaga mental anak-anak kita.
Kita sedang bertarung dalam dua peran sekaligus: menjadi anak yang berbakti (yang tidak boleh membangkang) dan menjadi orang tua yang melindungi (yang harus punya prinsip).
Bagi teman-teman yang saat ini sedang "berjuang" di medan perang yang sama mendidik anak di bawah atap orang tua atau mertua saya ingin berbagi beberapa refleksi dan tips yang selama ini saya coba terapkan.
Bukan karena saya sudah sukses melakukannya, tapi karena kita sama-sama sedang belajar.
- Komunikasi "Pintu Belakang" dengan Mertua/Orang Tua
Jangan mencoba menegur orang tua di depan anak saat mereka sedang memarahi atau membandingkan anak kita. Itu hanya akan menciptakan perpecahan otoritas. Tunggulah saat suasana tenang, saat sedang ngeteh sore atau sekadar duduk santai.
Gunakan kalimat yang tidak menyalahkan, misalnya: "Mak, aku tahu anak-anak kadang bikin pusing, tapi kalau boleh, kalau mereka salah biar aku yang kasih pengertian ya. Aku khawatir kalau sering dibanding-bandingkan, nanti mereka malah jadi minder dan nggak sayang sama sepupunya sendiri."
- Membangun "Benteng" Mental untuk Anak
Jika kita tidak bisa mengontrol mulut orang lain (termasuk orang tua sendiri), maka kitalah yang harus mengontrol apa yang masuk ke telinga anak. Setiap malam sebelum tidur, lakukan pillow talk.
Jika si kecil tadi siang dibanding-bandingkan, katakan padanya: "Tadi Mbah bilang begitu karena mungkin Mbah lagi capek. Kamu tetap hebat dengan caramu sendiri, tapi besok kita coba lebih sopan ya supaya Mbah nggak kaget."
Berikan validasi bahwa mereka berharga, terlepas dari apa yang dikatakan orang lain.
- Konsistensi di Tengah Gempuran "Lampu Hijau"
Masalah klasik tinggal bareng orang tua adalah: kita bilang "tidak," tapi mbahnya bilang "boleh." Misalnya soal es krim atau jam tidur. Di sini, kita harus tegas tanpa harus galak.
Jelaskan pada anak bahwa aturan di rumah tetap mengikuti aturan Ayah dan Ibunya. Katakan pada orang tua dengan lembut bahwa kita sedang mencoba mendisiplinkan anak demi kebaikan kesehatan mereka jangka panjang.
- Jadilah "Peredam" yang Cerdas
Anak-anak yang super aktif memang membutuhkan ruang untuk menyalurkan energi. Jika di dalam rumah orang tua banyak barang pecah belah atau lingkungan yang menuntut ketenangan, sesekali ajaklah anak keluar.
Taman, lapangan, atau sekadar jalan-jalan di teras. Ini akan mengurangi frekuensi gesekan antara anak yang "ramai" dan orang tua yang butuh "sepi."
- Jangan Masukkan ke Hati
Ini yang paling sulit. Kadang kita harus belajar membedakan mana komentar yang perlu dijawab dan mana yang cukup masuk kuping kanan keluar kuping kiri.
Kalau setiap komentar mertua kita masukkan ke hati, kita akan kehabisan energi untuk mengurus anak. Fokuslah pada tujuan utama: membesarkan anak yang bahagia dan sehat secara mental.
Menjadi orang tua di rumah orang tua memang terasa seperti berjalan di atas tali tipis. Kita sering merasa bersalah; merasa gagal menjadi anak yang menyenangkan bagi orang tua kita, sekaligus merasa gagal menjadi pelindung bagi anak kita.
Tapi ingatlah satu hal, literasi tentang pola asuh zaman dulu dan sekarang memang berbeda jauh. Orang tua kita dulu mendidik kita dengan cara yang mereka tahu yang mungkin penuh dengan perbandingan dan ketegasan fisik karena itulah yang mereka dapatkan dulu.
Mereka tidak punya akses ke artikel parenting atau seminar daring seperti kita sekarang.
Memahami hal ini bukan berarti membenarkan tindakan mereka, tapi setidaknya membuat hati kita sedikit lebih lunak untuk memaafkan.
Saya kini belajar untuk tidak lagi menghakimi siapa pun yang merasa lelah tinggal satu atap dengan keluarga besar. Cobaan soal anak memang luar biasa.
Ia menguras emosi, menguji kesabaran, dan sering kali membuat kita ingin menyerah. Namun, di sinilah karakter kita dibentuk. Kita belajar untuk lebih bijak, lebih mampu menahan lisan, dan lebih kuat dalam memegang prinsip.
Untuk kamu yang sedang berjuang di luar sana, yang mungkin malam ini menangis diam-diam karena sakit hati mendengar anakmu dibanding-bandingkan: kamu tidak sendirian.
Peluk erat anak-anakmu. Mereka tidak butuh rumah yang mewah atau lingkungan yang sempurna, mereka hanya butuh ibu yang percaya bahwa mereka istimewa, apa adanya.
Seperti kata pepatah, "It takes a village to raise a child," tapi kalau desanya sedang riuh dan penuh gesekan, pastikan kamu tetap menjadi "rumah" yang paling nyaman dan aman untuk anak-anakmu kembali.
.png)

.png)




