Sunday, 17 July 2022

IndiHome Memudahkan Saya Mengenalkan Literasi Digital Kepada Anak

Siang itu mendung hitam menggantung di atas kepala. Menggelayut menghalangi hangatnya mentari, membuat suasana desa kelahiran saya yang berada di kaki Gunung Anjasmoro semakin dingin.

Saya khawatir hujan akan turun sebelum saya dan suami berangkat ke Balai Desa. Tapi, hujan yang kami nanti-nantikan tak juga kunjung turun.

Kami pun memutuskan bergegas karena waktu sudah menjelang sore.

Motor yang kami gunakan berjalan perlahan meski mesinnya meraung karena gas ditarik mentok. Maklum… jalanan di desa kami nyaris tak ada yang datar. Jika tidak menanjak ya… menurun dan curam.

Sebenarnya, lokasi Balai Desa itu dekat saja dari rumah kami. Tapi, medan yang menanjak dan menurun dengan curam membuat perjalanan kami terasa lama.

Sesampainya di Balai Desa. Tampak masyarakat sudah menyemut, memenuhi pendopo hingga tumpah-ruah ke jalanan.

Menyaksikan pemandangan ini membuat saya menarik nafas dalam-dalam. Saya tidak suka keramaian. Tapi saya harus membulatkan tekad jika tak ingin terjebak di sini hingga petang. Apalagi, mendung masih juga tak beranjak dari langit desa kami.

Di antara hiruk-pikuk itu, saya berusaha mencari ujung antrian. Sia-sia… tak ada ujung antrian di sana.

Setelah berdesak-desakan dengan tubuh mungil ini. Saya pun akhirnya bisa berdiri di sebuah antrian yang sedikit agak "dipaksakan" oleh para petugas.

Waktu terasa berjalan begitu lambat. Hingga… tiba giliran saya menerima BLT untuk pertama dan terakhir kalinya--meski masyarakat lain sudah mendapatkannya berkali-kali.

Namun kami tak pernah mempermasalahkannya. Sebab, meskipun tercatat sebagai penduduk desa, namun kami tidak tinggal di desa ini. Karena kami harus mengontrak rumah di kecamatan lain demi memperoleh jaringan IndiHome yang menjadi tumpuan pekerjaan kami.

Ya, sayang sekali memang. Di era yang serba digital ini, di kecamatan tempat desa saya berada, justru belum kebagian layanan internet dari IndiHome. Padalah, saya sudah menjadi pelanggan Internetnya Indonesia ini hampir 8 tahun.

Setelah BTL itu ada di genggaman. Saya bergegas menjauh dari kerumunan dan segera menghampiri suami.

Dilalah… tak dinyana hujan yang sedari tadi kami khawatirkan, akhirnya turun juga. Derasnya seperti tertumpah dari langit dan membuat semua orang kocar-kacir mencari tempat bernaung.

Tentu, kami pun tak ingin basah kuyup. Kami bergegas menuju salah satu warung yang menyediakan kursi panjang. Karena itulah satu-satunya tempat yang terlihat paling nyaman untuk berteduh.

"A*u"

"Dan*k"

"Gob**k!"

Tanpa dikomandoi. Mata saya dan suami saling bertaut. Memandang satu-sama lain seolah tak percaya dengan apa yang barusan kami dengar.

Cacian dan makian itu keluar dari mulut anak-anak tanggung yang sedang mabar (main game bareng) di warung tempat kami berteduh itu. Di warung yang menyediakan hotspot Wi-Fi 5 ribuan dengan koneksi ala kadarnya.

Lagi…lagi…dan lagi… cacian dan umpatan terdengar silih berganti diantara tawa-canda dan ejekan serta bullying anak-anak usia tanggung tersebut.

Inikah wajah sesungguhnya generasi milenial? Sejauh inikah pergaulan anak-anak di desa kelahiran saya ini? Apakah orang tua anak-anak ini tahu apa yang dilakukan dan diucapkan oleh anak-anak mereka? Mengapa anak-anak ini sudah boleh memainkan game-game sadis di usia belia? Bagaimana dampak game yang penuh kekerasan tersebut terhadap kesehatan mental mereka nanti?

Semua pertanyaan tersebut tiba-tiba memenuhi benak saya. Tak pernah terbayangkan jika ucapan dan makian tersebut akan keluar dari mulut anak-anak yang sebagian besar tampaknya belum lulus SD.

Sungguh… meski mengetahui hujan adalah rahmat dari Tuhan. Tapi, kali ini, ingin rasanya saya berdoa agar hujan cepat usai dan menjauh dari tempat itu.

Jauh di lubuk hati, saya tentu saja sangat sedih menyaksikan generasi muda di desa ini yang menyia-nyiakan waktu, kesempatan, dan peluang yang mereka miliki.

Apalagi, manfaat internet dan gadget yang ada di tangan mereka tersebutlah yang selama ini menjadi tumpuan hidup kami. Dengan internet dan gadget, kami mengais rupiah, belajar, berbagi pengalaman, dan mengenal serta menjelajahi berbagai belahan dunia.

Benar kata orang… 

"tajamnya pisau, bisa digunakan untuk kebaikan dan keburukan. Tergantung siapa yang memegangnya."

Begitupula dengan smartphone dan internet. Jika tak digunakan dengan bijak, akan menjadi sia-sia. Dan, justru bisa membuat penggunanya merugi.

Meski saya tidak ingin menjudge bahwa semua pengguna "muda" smartphone dan internet kebanyakan belum pandai mengoptimalkan teknologi yang ada di tangan mereka. Tapi, kenyataannya ini membuat saya tak bisa berkelit.

Fakta Usia Pengguna Smartphone yang Semakin Belia

Smartphone tanpa internet bisa diibaratkan seperti burung tanpa sayap. Sebaliknya. Koneksi internet akan membuat smartphone bak mesin-waktu yang dapat menembus ruang dan waktu.

Singkatnya, kombinasi antara smartphone dengan internet akan membuat segala sesuatu yang tampaknya "mustahil" jadi "mungkin."

Buktinya… Dengan kombinasi dua teknologi tersebut, siapapun bisa mengakses belahan dunia lain secara real-time, karyawan bisa bekerja dari rumah (WFH), ibu-ibu bisa berbelanja sambil memasak di dapur, petani bisa mengontrol ladang tanpa harus pergi ke sawah, dan kendaraan bisa berjalan secara otonom.

Melihat apa yang bisa dicapai dengan internet tersebut, sewajarnya apabila kita harus merasa khawatir jika teknologi ini berada di tangan anak-anak yang belum paham arti tanggung jawab.

Jikalaupun mereka boleh mengakses internet di usia belia, langkah bijak seperti apakah yang harus diambil oleh setiap orang tua agar generasi bangsa ini tidak terjebak pada "bahaya" smartphone dan internet?

Rasanya, tak perlu segudang penelitian untuk membuktikan berbagai efek negatif – ketika smartphone berada di tangan anak-anak.

Lihat saja, pilihan kata yang diucapkan oleh anak-anak belia yang saya ceritakan di atas. Lihat juga bagaimana prilaku anak sekarang yang terpengaruh oleh game dan tontonan yang mereka saksikan di smartphone.

 Lalu, lihatlah betapa banyak anak-anak yang tantrum (berteriak histeris) sambil mencaci-maki orang tuanya hanya karena tidak diberi uang untuk membeli voucher game. Atau, bagaimana waktu belajar dan waktu bersosialisasi anak-anak yang kini lebih sering "direnggut" oleh teknologi tersebut.

Saya tak ingin berpolemik tentang, "tanggung jawab siapakah itu?" Tapi, saya ingin menegaskan bahwa, itu semua adalah tanggung jawab kita bersama.

Karena generasi muda yang ada saat ini akan menjadi pemimpin di masa depan. Di tangan merekalah nanti nasib bangsa ini dipertaruhkan. Merekalah yang akan menjadi presiden, DPR, polisi, dokter, atau bahkan Ketua RT di tempat tinggal kita.

Narasi itulah yang menggugah saya untuk menulis dan berbagi pengalaman melalui tulisan ini. Yakni, pengalaman dalam mengenalkan literasi digital kepada anak-anak kami di rumah.

Kami berharap, literasi yang kami ajarkan akan membuat anak-anak kami bisa beretika di dunia nyata dan dunia maya, bisa menjaga nilai-nilai budaya bangsa, dan bisa mengoptimalkan manfaat internet dan smartphone yang ada di genggaman tangan mereka. Dan, semoga bisa menjadi inspirasi bagi pembaca blog ini.

Mengenalkan Internet dan Gadget pada Anak

Cepat atau lambat, setiap orang tua yang punya anak pasti akan segera mendapati anaknya mengajukan pertanyaan ini,

"Semua teman-temanku sudah punya hp, trus aku kapan dibelikan?"

Tidak peduli seberapa belia usia anak tersebut. Pertanyaan di atas pasti akan segera terlontar dari mulutnya.

Dan, jangan heran apabila pertanyaan di atas sudah ditanyakan oleh anak kami, Kinza yang baru berusia 7 tahun.

Lalu, bagaimana kami menyikapi pertanyaan tersebut?

Menghindar dari pertanyaan tersebut adalah sesuatu yang mustahil. Tapi, untuk membelikan anak sebuah smartphone di usia yang masih sangat belia… tentu saja menjadi pertimbangan tersendiri yang wajib kami pikirkan.

Mengenalkan internet kepada anak-anak itu sendiri masih menjadi perdebatan di kalangan para peneliti. Ada yang berpendapat bahwa, anak-anak sama sekali tidak membutuhkan internet. Sebaliknya, tidak sedikit juga yang berpendapat bahwa mengenalkan internet kepada anak-anak sejak dini itu sangat penting.

Terlepas dari perdebatan tersebut, saya pribadi berpendapat bahwa, mengenalkan internet kepada anak-anak sangat penting karena ini adalah zamannya.

Jika orang tua tidak memperkenalkan internet kepada anak-anaknya sejak dari rumah, anak-anak pasti akan mencarinya sendiri di luar sana melalui teman-temannya.

Jika anak-anak mencari sendiri di luar, saya khawatir mereka akan mendapatkannya dari teman sebayanya yang belum pernah mengenyam literasi digital.

Disamping itu, menurut hemat saya, mengenalkan internet kepada anak-anak sejak dini itu penting. Mengingat, mengenalkan literasi digital kepada anak melalui pengalaman sehari-hari akan memberikan dampak yang lebih membekas.

Mengenal Bahaya Internet untuk Anak

Meskipun iming-iming berbagai manfaat internet bagi anak selalu membayang di pelupuk mata. Tapi, kita juga harus mengakui bahwa, dibalik itu semua, tersembunyi bahaya yang perlu diwaspadai.

Diakui atau tidak, internet telah menjadi konsumsi sehari-hari anak-anak di zaman ini. Bahkan, tidak sedikit orang tua yang tanpa sadar (telah) mengenalkan internet kepada anaknya sejak anak masih bayi.

Tapi sayangnya, proses mengenalkan internet dan gadget yang dilakukan oleh sebagian besar orang tua saat ini, tidak dibarengi dengan literasi digital.

Akibatnya, banyak orang tua yang tanpa sadar menggiring anaknya menjadi pengguna internet yang tidak produktif atau bahkan tidak mencegah anak dari ekspresi yang kebablasan di dunia maya.

Saya rangkum dari salah satu narasumber Jaringan Pegiat Literasi Digital (Japelidi) saat webinar nasional "4 Pilar Literasi Digital," berikut adalah beberapa bahaya internet bagi anak-anak yang tidak dibekali literasi digital.

  • Berpeluang mengakses konten dewasa
  • Membagikan konten hoax
  • Tidak bisa mengoptimalkan gadget dan internet
  • Bermain game atau menonton konten hingga mengorbankan waktu produktif
  • Kurang beretika di sosial media
  • Berlaku konsumtif dan boros
  • Menganggap dunia maya berbeda dengan dunia nyata
  • Tidak tahu bahaya membagikan data pribadi di dunia maya, hingga
  • Menyerap budaya dari internet tanpa memfilternya

Setiap orang tua akan kesulitan meliterasi anak-anaknya jika orang tua itu sendiri tidak terliterasi, bukan? Oleh sebab itu, setiap orang tua juga perlu mempelajari literasi digital.

Nah, jika kebetulan Anda belum sempat mengikuti program literasi digital nasional yang diadakan oleh Kemenkominfo, berikut beberapa inti sarinya.

Cara Melindungi Anak dari Bahaya Internet

Berdasarkan Literasi Digital dari Menkominfo yang saya ikuti. Setidaknya, ada empat pilar literasi digital yang perlu kita pelajari.

Karena 4 pilar tersebut dipercaya sudah mewakili hal-hal yang harus diketahui, agar kita bisa menggunakan gadget dan internet secara bijak. Adapun 4 pilar literasi digital tersebut adalah:

  1. Digital skill
  2. Digital culture
  3. Digital Ethics
  4. Digital safety

Mari kita bahas satu persatu poin-poin di atas untuk mengetahui lebih lanjut apa yang dimaksud dengan empat pilar literasi digital tersebut.

1. Digital Skill

Maksudnya adalah, kita harus mengetahui manfaat internet dan gadget yang kita miliki agar bisa memaksimalkannya untuk tujuan-tujuan yang produktif dan bermanfaat.

Misalnya, pengguna bisa memanfaatkan kamera pada hp untuk untuk membuat vlog, membuat foto produk untuk jualan online, dsb.

Singkatnya, menguasai skill digital akan membuat pengguna mampu memanfaatkan internet untuk menggali potensi yang ada pada diri mereka masing-masing.

2. Digital Culture

Pilar yang kedua adalah digital culture atau budaya digital. Dengan menguasai budaya digital, kita akan memiliki kemampuan untuk mempertahankan budaya lokal dan nasional.

Sekaligus, membentengi diri maupun anak dari budaya negatif atau budaya asing yang mungkin akan menggerus budaya dan kearifan bangsa.

3. Digital Ethics

Saya pribadi sering menjumpai anak-anak yang menggunakan kata-kata kurang sopan ketika berkomunikasi melalui medsos dengan orang tua atau gurunya.

Bahkan, tak jarang saya menjumpai anak-anak yang tidak bisa membedakan ranah private dan publik. Misalnya, lebih memilih menggunakan public chat room untuk mengkomunikasikan maksud pribadi.

Dan, sering pula saya jumpai komentar-komentar yang kurang sopan, bersifat memojokkan, membully, hingga merendahkan, di sosial media.

Semua itu disebabkan karena penggunaan pengguna internet tersebut belum memahami etika digital.

Etika digital lebih menitikberatkan pada etiket pengguna saat berada di internet.

Mengajarkan anak digital ethics sangat penting. Karena, banyak anak-anak yang merasa dunia maya dan dunia nyata itu berbeda.

Akibat anggapan tersebut, banyak diantara mereka yang dengan sengaja membuat konten berbahaya, konten-konten yang melanggar hukum, sengaja membuat atau menyebarkan hoax, atau melakukan tindakan tidak terpuji seperti pembulian atau sex harassment hingga grooming di internet dengan berlindung dibalik akun palsu.

Padahal, seperti di dunia nyata, setiap tindakan yang mereka lakukan di internet memiliki konsekuensi layaknya di dunia nyata, atau bisa dipidanakan karena melanggar UU ITE. 

4. Digital Safety

Fokus digital safety (keamanan digital) adalah keamanan gadget dan penggunanya. Karena, baik gadget maupun penggunanya berpotensi menjadi korban, virus, spyware, trojan, cyber crime (kejahatan digital), penipuan, pemerasan, pelecehan, dan berbagai bentuk kejahatan lainnya.

Disamping itu, membekali anak dengan literasi digital safety juga sangat penting. Mengingat, saat ini, setiap orang bisa dengan mudah masuk ke rumah atau kamar anak-anak kita melalui smartphone.

Cara Saya Meliterasi Anak agar Cakap Digital

Setelah mengikuti beberapa sesi webinar literasi digital yang diadakan oleh pemerintah tersebut. Saya mencoba menerapkan setiap ilmu yang saya dapatkan untuk diri sendiri dan anak-anak di rumah.

Berikut adalah beberapa hal yang kami lakukan untuk memperkenalkan dan memanfaatkan gadget dan internet kepada anak.

1. Memaksimalkan Manfaat Gadget dan Internet

Setiap hari, kami selalu berusaha untuk memberikan contoh kepada anak-anak bagaimana caranya memaksimalkan gadget dan internet.

Diantara hal-hal yang kami lakukan untuk mengenalkan anak-anak tentang manfaat gadget dan internet adalah,

  • Mengajak mereka memanfaatkan smartphone untuk membuat konten positif sesuai usia mereka
  • Mengajarkan kepada mereka teknik merekam dan video editing
  • Mengajak anak-anak menonton konten bermanfaat dan mempraktekkannya
  • Mendorong mereka mengikuti kelas-kelas digital
Salah satu karya kami bersama anak dalam memanfaatkan gadget dan internet

2. Mengatur Screen Time

Screen time (durasi) menggunakan gadget atau mengakses internet harus diatur sejak dini dan dijalankan secara konsisten.

Setiap hari, kami memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk mengakses internet tidak lebih dari 2 jam. Screen time tersebut kami bagi menjadi 4 sesi. Dengan masing-masing sesi berdurasi 30 menit.

  1. Sesi 30 menit pertama biasanya kami berikan sepulang sekolah. Tepatnya setelah anak membaca ulang dan menyalin pelajarannya (per hari itu) ke laptop, atau setelah mengerjakan PR--jika ada
  2. Sesi 30 menit kedua kami berikan sebagai reward jika anak membantu pekerjaan rumah tangga yang ringan. Seperti, menyapu lantai, menjemur baju, mencuci piring, dsb
  3. Di sesi ke-3, anak-anak akan mendapat kesempatan bermain gadget setelah mereka belajar mengaji atau hafalan Al-Quran dan membaca pelajaran untuk esok hari
  4. Sesi 30 terakhir adalah reward dari setiap perbuatan baik yang mereka lakukan di hari itu. Misalnya, anak akan dapat reward jika,
    • Menyisihkan sebagian uang jajan untuk ditabung
    • Jika ia berbagi (makanan atau yang lainnya) dengan saudara atau temannya
    • Apabila ia mengantri dengan tertib di tempat umum
    • Membantu teman yang kesulitan
    • Selalu membuang sampah pada tempatnya
    • Membantu tetangga yang membutuhkan bantuan
    • Membaca buku-buku yang ada di perpustakaan pribadi, atau berbagai perbuatan baik atau terpuji lainnya

3. Tidak Memberikan Gadget dengan Cuma-cuma


Sebelum anak-anak mendapatkan kesempatan bermain gadget, mereka harus melakukan hal-hal yang bermanfaat terlebih dahulu. Misalnya, anak-anak bisa membaca, membantu pekerjaan ibu/ayah, atau melakukan hal-hal bermanfaat lainnya seperti yang telah saya ungkapkan pada poin ke-2.

Tujuan kami membuat peraturan tersebut adalah untuk mengajarkan anak-anak agar mereka memahami konsep hidup mandiri.

Jadi, secara tidak langsung mereka akan memahami bahwa, saat mereka menginginkan sesuatu, mereka harus berusaha untuk mendapatkannya. Dengan begitu, mereka akan,

  1. Terbiasa bekerja sebelum mereka menerima reward
  2. Belajar memanfaatkan waktu
  3. Belajar menghargai hasil jerih payahnya, dan
  4. Belajar memanfaatkan setiap kesempatan yang mereka dapatkan

4. Kids Mode (Mode Ramah Anak)

Anak-anak yang ingin memegang gadget atau mengakses internet melalui smartphone, hanya kami perkenankan pada Kids Mode atau mode ramah anak.

Kids Mode akan memudahkan kami mengatur screen time dan membantu kami memfilter apa saja yang aman dan tidak aman diakses oleh anak-anak saat menggunakan hp dan internet.

4. Menemani Mereka Bermain Game dan Menonton

Setiap anak memiliki ketertarikan pada game dan tontonan yang berbeda-beda. Biasanya, ketertarikan mereka pada game tertentu dan tontonan tertentu dipengaruhi oleh lingkungan, terutama oleh teman-temannya.

Sebelum menginstal game tertentu untuk anak-anak. Terlebih dahulu game-game tersebut harus diseleksi atau dimainkan orang tua. Tujuannya adalah untuk mengetahui, game play, cerita, dan berbagai kemungkinan efeknya bagi kesehatan mental dan perilaku anak.

Sejumlah game dan tontonan yang disukai anak-anak kadang-kadang mengandung kekerasan dan hal-hal yang kurang pantas.

Jika anak-anak sangat tertarik dan memaksa untuk menonton. Sebagai orangtua kami akan berusaha mendampingi mereka, agar, anak-anak bisa mengetahui baik dan buruk tontonan tersebut.

Dengan ikut menonton, kita sebagai orang tua juga bisa mengetahui apa saja konten-konten yang boleh ditonton oleh anak-anak atau yang harus diblokir.

Kemudian, kita juga akan mengetahui apa yang disukai oleh anak-anak dan bagaimana perilaku mereka setelah menonton video-video tersebut atau setelah memainkan game-game tertentu.

5. Perkenalkan Anak pada Rating Aplikasi dan Game

Sebagian besar orang tua yang memberikan kesempatan pada anak-anaknya untuk bermain gadget jarang memperhatikan rating usia aplikasi yang akan diinstal dan disuguhkan kepada anak-anaknya.

Padahal, di Google Play ataupun App Store, pasti terdapat tertera jelas rating usia untuk setiap aplikasi dan game.

Rating usia yang tertera pada aplikasi maupun game tersebut tentu saja sangat penting, sebagai panduan untuk setiap orang tua maupun anak-anak yang akan menginstalnya.

Rating usia pada aplikasi dan game sengaja kami memperkenalkan kepada anak-anak. Tujuannya adalah, agar mereka memahami mengapa mereka tidak boleh memainkan game dan menginstal atau mengakses aplikasi yang rating usianya di atas usia mereka.

Seperti Tik Tok, YouTube, dan beberapa aplikasi lainnya biasanya memiliki rating 12+ di App Store atau Google Play. 

Keberadaan rating usia tersebut memudahkan kami sebagai orang tua memberitahu anak bahwa, aplikasi atau game-game yang rating usianya di atas usia mereka, tidak boleh diinstal dan dimainkan demi kebaikan mereka.

5. Gadget dan Aplikasi Harus Diberi Password

Setiap gadget dan aplikasi atau game yang ada di dalam gadget harus diberi password atau PIN yang tidak boleh diketahui oleh anak-anak.

Hal ini sangat penting mengingat, untuk mengantisipasi anak yang tidak sengaja membuka dan membagikan foto atau video pribadi ke sosial media. Entah itu, melalui WhatsApp, Facebook, atau mengunggah konten-konten seperti Instagram.

Tujuan lain mempassword aplikasi dan gadget adalah untuk mencegah agar anak-anak tidak bisa mengakses internet secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan orang tua.

Beberapa aplikasi penting yang tidak boleh diakses anak-anak juga wajib di password agar tidak disalahgunakan. Seperti, aplikasi Google Play, e-banking, e-wallet, atau aplikasi-aplikasi yang berisi data-data pribadi dan data-data penting seperti PeduliLindungi, Email, WhatsApp, dsb.

6. Tidak Membelikan Anak Gadget Sebelum Usia 13-15 Tahun

Bill Gates yang dikenal sebagai salah satu pemuka di dunia teknologi pernah mengungkapkan bahwa, anak-anaknya tidak diizinkan menggunakan smartphone hingga mereka berusia 14 tahun.

Keputusan Bill Gates tersebut sebenarnya sangat wajar. Mengingat, anak-anak yang belum cukup dewasa, umumnya belum memahami arti tanggung jawab, belum memahami sepenuhnya mengenai literasi digital, dan berpotensi menyalahgunakan teknologi yang ada di tangan.

7. Konsisten dengan Peraturan yang Sudah Dibuat

Untuk memudahkan kami meliterasi anak agar cakap digital, kami berusaha untuk selalu konsisten dalam menerapkan setiap peraturan yang telah kami buat di atas.

Walau demikian, kami tidak membuat peraturan tersebut terlalu kaku. Dalam situasi tertentu, kami membuatnya sedikit lebih fleksibel dengan berbagai pertimbangan.

Sejauh ini, konsistensi dalam menerapkan peraturan, membuat kami lebih mudah mencegah anak agar tidak kecanduan gadget, memudahkan kami mengenalkan literasi digital, dan memudahkan kami mengontrol agar anak-anak tidak kebablasan dalam menggunakan dan mengekspresikan diri di internet.

Langganan IndiHome Memudahkan Saya Belajar Literasi Digital

Sejak sebelum menikah dan setelah menikah 8 tahun yang lalu, ketika saya dan suami memutuskan untuk menjadi full time blogger dan content writer, kami sudah memutuskan untuk berlangganan layanan fixed broadband dari PT Telkom Indonesia (Persero).

Setelah melalui berbagai pertimbangan. Seperti, biaya langganan, keamanan, stabilitas, dan pelayanan, kami akhirnya memutuskan untuk berlangganan internet IndiHome dari Telkom Indonesia.

Tujuan utama kami memilih layanan internet dari PT Telkom Indonesia adalah untuk mendukung pekerjaan saya dan suami. 

Pasalnya, saat aktif bekerja, saya dan suami bisa menghabiskan antara 200 - 300 GB data internet setiap bulan untuk riset dan lain sebagainya. Jika membeli paket internet seluler, dijamin kami akan sangat kewalahan.

Keputusan berlangganan IndiHome kami anggap sebagai keputusan terbaik yang pernah kami buat. Mengingat, IndiHome sekarang sudah semakin ngebut dan pelayanannya semakin baik.

Dulu, di tahun 2014 saat pertama kali berlangganan. Layanan yang kami dapatkan masih menggunakan kabel tembaga dengan speed 2 Mbps saja. Dua tahun kemudian, kami ditawarkan upgrade layanan ke IndiHome fiber dengan tarif tetap tapi dengan speed 10 Mbps dan kuota 200 GB. Di tahun 2020 kami kembali ditawarkan untuk meng-upgrade speed internet menjadi 20 Mbps dengan kuota 400Gb, lagi-lagi dengan tarif yang masih sangat terjangkau.

Kejutan kembali dihadirkan oleh IndiHome beberapa waktu lalu. Saat saya iseng mengecek speed internet melalui speedtest.net saya dibuat tak percaya dengan kecepatan upload yang kini meningkat 2 kali lipat, dari yang sebelumnya hanya 3-4 Mbps menjadi 7-8 Mbps.

Tak hanya merasa puas dengan layanan yang diberikan, berlangganan IndiHome juga membuat saya dan suami jadi lebih mudah mengawasi anak-anak saat menggunakan internet, lebih leluasa memblokir situs yang kurang ramah anak langsung dari administrator router WiFi, dan memudahkan kami untuk mengurangi ketergantungan anak-anak pada smartphone.

Demi mengurangi ketergantungan anak-anak pada smartphone, kami sengaja membeli smart TV.

Jadi, jika anak-anak mendapatkan reward dan ingin menggunakan kesempatan yang mereka peroleh untuk menonton konten. Kami mengarahkan mereka untuk menontonnya melalui TV, bukan melalui smartphone.

Berikut adalah beberapa keuntungan jika anak-anak menonton melalui TV.

  1. Mata anak lebih sehat karena jarak pandang jadi semakin jauh. Tidak seperti saat menggunakan smartphone yang jarak pandangnya kurang dari 30 cm
  2. Suara TV terdengar nyaring, sehingga kami bisa mengawasi apa saja yang ditonton oleh anak-anak sambil bekerja atau memasak di dapur
  3. Konten bisa disesuaikan dengan usia anak melalui aplikasi YouTube Kids
  4. Lebih mudah memblokir konten yang tidak sesuai dengan anak
  5. Screen Time lebih mudah diatur melalui timer
Salah satu paket promo IndiHome yang bisa kamu lihat disini

Sebagai bahan pertimbangan, berikut adalah beberapa keuntungan berlangganan IndiHome berdasarkan pengalaman saya.

  • Jarang ada trouble jaringan
  • Kalaupun ada trouble, pelayanannya cepat dan responsif
  • Pilihan paket lengkap  dari IndiHome dan bisa disesuaikan dengan kebutuhan.
    1. Paket 1P dengan speed 30 Mbps seharga 330k per bulan
    2. Paket 1P dengan speed 50 Mbps dengan harga 470k per bulan
    3. Paket 2P dengan speed 20 Mbps seharga 275K per bulan
    4. Paket 2P dengan kecepatan 30 Mbps seharga 315K per bulan
    5. Paket 2P dengan kecepatan 50 Mbps seharga 445K per bulan
    6. Paket 3P dengan kecepatan 30 Mbps seharga 385K per bulan
    7. Paket 3P dengan kecepatan 50 Mbps seharga 615K per bulan
    8. Paket 3P dengan kecepatan 50 Mbps + akses Netflix seharga 615K per bulan
  • Menggunakan kabel fiber optik yang menawarkan koneksi lebih cepat dan stabil
  • Penggunaan kabel fiber optik juga membuat latensi jaringan IndiHome lebih rendah (rata-rata 0.2 ms), sehingga cocok untuk para gamer, untuk pengguna yang sering nonton live streaming, dan cocok untuk pengguna yang sering mengadakan atau mengikuti online conference (meeting online)
  • Paket 2P dan 3P memberikan gratis telepon rumah 50 menit
  • Paket 3P di-bundling juga dengan TV digital (UseeTV) yang berisi 119 channel. Di samping, bebas mengakses Disney Hotstar, MOLA TV, Minipack Indo Movie 2 + HBO Go, hingga Video dan WeTV premium
  • Paket termurah bisa digunakan untuk 5 hingga 7 perangkat sekaligus

Kesimpulan

Mengenalkan anak-anak pada gadget dan internet harus dimulai dari rumah. Karena, jika tidak diperkenalkan dari rumah, anak-anak mungkin akan mengenal gadget dan internet dari orang lain di luar sana belum tentu mempelajari literasi digital.

Tapi, sebelum mengenalkan anak-anak pada gadget dan internet. Setiap orang tua wajib membekali diri mereka dengan literasi digital agar tahu apa yang harus dilakukan.

Literasi digital bisa diperoleh dengan mengikuti webinar literasi digital yang diadakan oleh pemerintah. Link webinar literasi digital nasional bisa diperoleh melalui Instagram @siberkreasi, atau website siberkreasi.id, japelidi.id, dan aptika.kominfo.go.id.

Berdasarkan pengalaman saya, agar bisa menguasai empat pilar literasi digital, kita harus rutin mengikuti setiap sesi webinar tersebut.

Mengingat, satu sesi yang diadakan selama 2 hingga 3 jam belum cukup untuk mengenal literasi digital. Karena itu, kita perlu menyediakan internet yang memadai dan stabil agar tidak melewatkan poin-poin penting yang dibahas oleh narasumber.

Agar tidak boros uang untuk membeli kuota, cobalah untuk berlangganan layanan internet seperti yang saya lakukan, yaitu dengan berlangganan IndiHome melalui indihome.co.id atau bisa juga dengan datang langsung ke kantor pelayanan IndiHome terdekat di kota Anda masing-masing.

Demi melindungi anak dari bahaya internet, untuk mendorong kreatifitas dan produktifitas anak, serta untuk memaksimalkan manfaat internet yang tanpa batas ini, yuk bekali diri dan putra putri kita dengan literasi digital.


Previous Post
Next Post

post written by:

Seorang ibu yang senang menulis tentang motivasi diri, parenting dan juga tentang kehidupan sehari-hari di Jombloku. Semoga blog ini bisa membawa manfaat buat kita semua.

15 comments:

  1. Wih domain baru mrs Jo :)
    Smartphone itu bisa negatif bisa positif gimana kita memanfaatkannya. kalau bijak justru akan menguntungkan kok contohnya belajar literasi digital anak kan

    ReplyDelete
  2. Internet memang mempunyai 2 sisi. PR banget nih buat para orangtua. Mengenalkan literasi digital kepada anak. Tetapi, jangan sampai mereka terpapar sisi negatifnya

    ReplyDelete
  3. Betul setuju sekali ulasannya lengkap. Memang kita harus mendampingi anak-anak ketika bermain, gara2 online anak2 jadi punya group wa, suka saya pantau.

    Memang suka ada bahasa kasar dari temannya, sayabiseng tanya ini siapa eeh ternyata tmn cewek yg suka nulis kata2 kasar atau bully.

    Disatu sisi internet memudahkan kita disisi lain bisa menjadi bencana buat anak2.

    ReplyDelete
  4. Kereen konsistensinya utk menjaga screentime anak, mbak lintang. Bagiku, ini juga masih effort banget. Meski sudah tahu sedemikian ngeri dampak buruk gadget pd anak, tapi untuk mengaturnya mmg butuh pengetahuan dan kenijaksanaan ortu. Di sisi lain, kita tidak mungkin sama sekali.membatasi anak dr penggunaan gadget.

    Btw, keterlayanan internet di seluruh daerah mmg masih jadi haapan semua yaa..semoga indihome dan provider lainnya bisa saling mengisi kebutuhan ini.

    ReplyDelete
  5. Anak2 kecil nih kadang suka lebih pintar memainkan gadget dan berselancar di inet ketimbang ortunya. Cepet banget belajarnya. Aku pribadi memfasilitasi anakku makai inet ya, cuma ya itu tetep kudu didampingi dan idem sih ada batasan kapan makainya, screen time juga, Krn ya gmn pun anak2 hidup di era internet udah ada, sejak kecil mereka dah akrab dengan inet hehe.
    Btw kami juga pakai indihome di rumah mbak :D

    ReplyDelete
  6. Jujur, aku belum bisa ngasih aturan kaya gitu pada anak, keponakanku. Sejauh ini dia main dan masih aman. Internet banyak manfaat, tapi juga ada risiko yang besar. Jadi orang tua kudu bijak. Oh iya, di rumah pasang IndiHome. Jadi anak lebih terkontrol saat main

    ReplyDelete
  7. Aku kenal dan langganan Indihome setahun kemudian, mba. Tahun 2015 awal waktu ada rencana akan resign, suami yang berniat pasang WiFi agar saya tak bosan kalo di rumah aja.

    Anak-anak memang harus sejak dini dikenalkan dengan internet. Benar kata mba Inuel, karena udah jamannya digital Lebih baik diajarkan di rumah oleh orang tua daripada kenal dari teman. Takutnya nanti lihat yang bukan untuk usianya. Keren ya Bill Gate karena punya aturan yang tidak dilakukan oleh orang tua kebanyakan

    ReplyDelete
  8. Waaah... lengkap sekali nih kak pembahasan literasi digital untuk anak. Saya setuju kalau anak dibawah usia 13 tahun belum boleh pegang gadged atau harus dalam pengawasan ketat. Saya pun memasang parenting google untuk smartphone anak-anak yang manfaatnya untuk memantau. Meski begitu tetap saja harus diedukasi agar anak-anak tidak terjerumus ke hal-hal negatif

    ReplyDelete
  9. miris ya kini makin banyak anak yang sejak dini sudah terpapar pengaruh buruk akibat penggunaan gadget yang tak terkontrol.

    Benar ibarat pisau, bisa berguna namun juga bisa bikin celaka. Orang tua mesti bijak dan membuat aturan yang ketat dan tegas pada anak, walau anak merengek, orang tua mesti teguh hati

    ReplyDelete
  10. Nah bener, anak2 yang pada mabar pasti sepaket sama ngomong kotor dan kasar. Bener banget kalau internet ibarat dua mata uang, yang selain bermanfaat juga ada dampaknya kalau tak bijak. Harus lihat rating sesuai umur.

    ReplyDelete
  11. MashaAllah~
    Youtube channelnya mas Kinza bagus sekalii..
    Aku jadi banyak tahu mengenai "Pemahaman Mengenal Allah melalui CiptaanNya".

    Barakallahu fiikum.
    Sukses selalu untuk konten positifnya dan selalu bisa memberikan konten informatif untuk anak-anak Indonesia bersama jaringan cepat indiHome.

    ReplyDelete
  12. Internet juga membantu saya dalam hal parenting. bahkan sejak dari masa kehamilan hingga sekarang anak-anak sudah besar. Sekarang lagi gemar mengajarkan literasi digital sama anak yang besar.

    ReplyDelete
  13. Wah makasih banyak Sharingnya, mbak terutama soal memilih game buat anak. Nanti coba saya praktikkan ke anak-anak saya

    ReplyDelete
  14. Justru anak harus mendapatkan pengetahuan pertama kali tentang penggunaan internet dari orangtuanya. Ortu yang sudah memiliki kecakapan digital, Insya Allah bisa membimbing putra-putrinya dalam mengambil sisi baik keberadaan internet untuk membantu mengembangkan berbagai kemampuan anak.

    ReplyDelete
  15. Memang di zaman digital sekarang ini ngga mungkin orang tua melarang anaknya pegang gawai dan main internet.
    Pasti anak akan penasaran dari cerita teman-temannya.
    Tips yang mba bagikan sangat pas untuk orang tua anak zaman now agar ngga kebablasan mengenalkan internet ke anak. Semua harus under control orang tua.

    ReplyDelete