Sunday, 5 September 2021

8 Years as Mrs. Jo

 Ah ya.. sekali lagi, hari ini saya lupa dengan hari dimana kami menikah, bukan karena tidak spesial, lagi-lagi saya harus bilang, setiap hari yang kami lalui adalah spesial. Seperti biasanya, saya melupakan hari pernikahan kami. 8 tahun yang lalu, kami memulainya.

Mengingat pertemuan dari acara blogwalking, saya dan Mas Joo hanya saling menyapa di blog masing-masing. Saat itu, si Mas masih kuliah di Jogja, sementara saya bekerja di sebuah Warnet di Surabaya. Kami memulai semuanya dari sebuah pertemanan maya.

Ketika ada kesempatan untuk bertemupun, itu bukan hal yang disengaja dan diniatkan, Juni 2010 si Mas mampir ke warnet di Surabaya sehabis mengantar ibunya ke Juanda setelah acara Wisudanya. Dan tetap, kami bertemu hanya sebagai teman.

Cerita ini nggak bakalan habis dan saya lupakan, pasalnya sebagai orang yang lebih dulu menyukainya, setiap momen terasa berharga dan sulit dilupakan hingga saat ini.

Dan sekarang, sudah 8 tahun saya menjadi seorang Mrs. Jo.

Alhamdulillah.. terimakasih kepada Allah yang sudah memberikan saya jodoh sebaik dia, selembut dan sesabar dia.

Alhamdulillah.. Allah beri kami pemikiran yang sama, pandangan hidup yang sejajar hingga tidak membuat kami kesulitan untuk menemukan jalan. Bukankah menyamakan visi misi adalah salah satu tujuan pernikahan.

InsyaAllah.. akan ada 5 september lain kedepannya dan kita masih bersama-sama menjalaninya dengan baik. Terimakasih karena sudah sabar dengan aku ya, Mas..

Wednesday, 3 February 2021

Keluarga Bahagia Dalam Pernikahan

Keluarga bahagia adalah bagian dari mimpi semua orang dalam pernikahannya, tujuan kehidupan dan harapan banyak pasangan. Banyak deskripsi yang mencerminkan keluarga bahagia, dari yang remeh sampai yang sulit dimengerti orang lain.

Keluarga bahagia


Saya sendiri adalah seorang istri yang mendeskripsikan kebahagian dengan sederhana. Tak muluk dan apa adanya.

Sebelumnya, kenalan lagi dengan saya Mrs. Jo, istri dari Mr. Joo tentu saja. Dari kecil, saya merasakan betul bagaimana keluarga yang bahagia itu dari orang tua saya yang sederhana. Anak kecil tak mengerti deskripsi bahagia itu seperti apa, hanya saja ketika tumbuh dewasa, kebahagiaan lah yang membuat anak kecil ini menyadarinya.

Bapak emak saya bukan orang kaya yang punya banyak harta, mereka berdua hanya orang desa yang memiliki kehidupan layaknya orang desa biasanya.

Harta bukan ukuran jadi keluarga bahagia

Meskipun hanya orang desa biasa, saya melihat Emak Bapak selalu kompak. Menikah adalah ibadah terpanjang dan terlama yang harus manusia lewati. Dalam pernikahan sering kali kebahagiaan dideskripsikan dengan profil pasangan yang kaya raya dan memiliki banyak harta. Meskipun uang adalah salah satu penunjang yang gak boleh kita abaikan, tetap saja.. harta dan uang bukan ukuran pasti pasangan suami istri bisa bahagia.

Keluarga yang penuh senyum kebahagiaan adalah mereka yang menciptakan suasana rumah menjadi tempat yang selalu dirindukan. Suasana rumah yang selalu bikin kangen. Ketika saya menjadi bagian dari keluarga lain saat menjadi pembantu rumah tangga dulu, saya merasakan betul bagaimana berada di dalam rumah yang nyaman dan rumah yang tidak nyaman.

Ada sebuah rumah megah tapi tak nyaman untuk ditinggali, bahkan gak betah jika berlama-lama disana. Padahal rumah adalah tempat pulang. Begitupun dengan berita yang ada di media sosial, banyak sekali orang-orang yang berpisah dengan pasangannya padahal mereka kaya raya. Ternyata.. Bukan uang dan harta kekayaan sumber dari kebahagiaan.

Punya pasangan menawan juga bukan ukuran jadi keluarga bahagia

Menikah seseorang karena agamanya, bukan karena kecantikannya, harta bendanya. Tentu ungkapan ini sudah sering kalian baca dan lihat, bukan? Setelah menikah, ketampanan dan kecantikan juga bukan hal yang paling banyak dalam menentukan kebahagiaan kehidupan berumah tangga.

Paras bukan ukuran yang pantas dijadikan hal nomer atas untuk mengukur sebuah kebahagiaan. Adakalanya.. Pasangan kita bersyukur karena kita adalah orang yang bisa mengerti dia, mengimbanginya dan memaklumi semua kekurangannya. 

Adakalanya juga, pasangan kita lebih menyukai kita yang selalu berada di rumah dengan muka polos tanpa make up.

Lalu bagaimana bisa keluarga bahagia tercipta?

Saya, bukanlah orang yang memiliki paras anggun tapi saya bersyukur dengan semua kelebihan yang Allah berikan kepada saya.

Jika dulu saya mengukur segala sesuatu dari uang dan materi, sekarang saya sama sekali tidak mampu mengukurnya. Orang memiliki hati yang harus dihargai, perasaan yang harus dimengerti. 

Ketika kita sudah berada dalam ranah rumah tangga, suamilah prioritas kita. Ada yang bilang “wanita jangan mau menjadi budak lelaki”. Hah.. biarkan saja mereka, karena saya adalah penganut wanita yang selalu berada di bawah lelaki, suami saya. Tidak ada yang salah dengan itu.

Berada diibawah tidak selalu direndahkan terlebih lagi jika pasangan kita mengerti agama. Dalam keadaan marah pun dia masih menghargai kita, menunjukkan kesabarannya dan yang paling bermakna adalah mereka mau menasihati kita.

Karena kepada pasangan, kita harus saling mengingatkan tentang kebaikan, mengingatkan tentang semangat hidup untuk menjemput kematian terbaik. Bukan saling menuntut dan mencela, bahkan berkata kasar kepada pasangan.

Saling terbuka satu sama lain, seperti sejatinya ketika akad sudah menyatukan 2 orang, begitulah kita harus menjadi pakaian antara satu dengan yang lainnya. Tidak ada yang sempurna, manusia hanyalah kumpulan kekurangan dalam diri yang harus di diarahkan ke yang baik.

Keluarga bahagia dalam pernikahan tentu saja yang saling terbuka. Memberi dan menerima semua yang pasangan kita miliki dengan hati yang lapang. Memikirkan sejuta alasan kebaikannya ketika kita sedang kecewa. Memikirkan sejuta alasan untuk tersenyum bareng dia ketika kita menangis karenanya.

Kesimpulannya?

Hah.. mengukur dari fisik, harta, paras akan habis idmakan waktu, tetapi hati.. Akan tetap seperti dia adanya, tak akan berubah meskipun waktu terus berjalan. Semoga kehidupan rumah tangga kita bisa menciptakan keluarga yang bahagia dan menjadi pernikahan impian untuk setiap pasangan.

Wednesday, 5 September 2018

5th Wedding Anniversary
Alhamdulillah... Tanggal ini, 5 September 2013 yang lalu, saya mengahiri masa jomblo. Menikah dengan seorang yang sama sekali tidak saya kenal. Hanya bermodal suka sama tampang dan sikapnya yang cuek banget, emang bisa dideskripsikan sebagai pernikahan yang mungkin sedikit extrim. Saya mengira, rasa suka saya kepada seseorang tidak pernah sedalam itu. Bahkan bisa dibilang, percakapan kami gak ada faedahnya sama sekali. Ngobrol apapun tanpa berpikir dan hanya sebagai teman blogger.



Tahun 2009, saya mengenal seorang blogger ini, yang ngeblognya gak pasti. Karena saya masih jomblo, mendapatkan banyak temen blogger cowok itu prioritas utama hahah. Jadi jaman dulu itu bukan duit yang di cari, tapi kenalan cowok yang banyak. Saat itu saya masih menjadi seorang operator warnet di daerah Rungkut Surabaya. Inget ya... Saya jaga warnet bukan karena saya bisa komputer, gak sama sekali. Lulusan SMP di desa itu gak mumpuni extra kulikuler nya. Bisa dibayangkan gimana awamnya saya dengan komputer.

Tapi bagi saya, baik dulu ataupun sekarang, belajar dan selalu memupuk rasa ingin tahu adalah modal utamanya. Bukan terus nerima apa yang harus diterima. Setidaknya, saya dulu terpaksa out of the box gitu. Kenapa terpaksa? Karena pada dasarnya saya sendiri gak berani memulai sesuatu yang baru.

Wednesday, 12 October 2016

Kiat Menghadirkan Cinta dalam Perbedaan Kehidupan Rumah Tangga
Perbedaan memang selalu ada, bukan kepada sepasang suami istri, bahkan kepada orang tua sendiri yang melahirkan dan membesarkan kita bisa saja berbeda. Bukan dari hal-hal  besar, bahkan hal kecil seperti meletakkan sesuatu yang tidak pada tempatnya saja bisa memicu pertengkaran jika tidak dilanjutkan dengan komunikasi yang baik. Setelah berumah tangga dengan seorang Joo, saya mengerti banyak hal yang mungkin sedikit bagian darinya yang saya tahu.

Bagimu, yang sedang jatuh cinta.. Perbedaan berumah tangga itu sangat banyak.. Jika kita tidak bisa menghadapinya dengan baik, bisa saja setan mencari celah kosong untuk membakar semuanya menjadi hal yang mengerikan.

Kita, tidak bisa menyalahkan perbedaan, kita hanya perlu menguatkan cinta..

Kembali Kepada niat awal


Jika sudah begitu, kembalikan kepada niat awal menikah kita apa? Apa iya untuk bertengkar dan bercekcok dengan pasangan? Niat menikah yang karena Allah akan lebih mudah mengembalikan semuanya kepada Allah jika terjadi sesuatu. Memang, kadang emosi membawa kebencian dan gengsi yang tinggi, disana kita dituntut untuk memulai lebih dahulu, memulai apa?


Mulai minta maaf dan berbicara


Meskipun makan pernah sepiring berdua, minum bergantian gelas, dan saling mengasihi dalam banyak hal. Kita kadang gengsi untuk memulai pembicaraan dengan pasangan, merasa benar dan kadang malu. Waktunya kita 'membunuh' semua perasaan-perasaan itu, katakan maaf, meskipun itu sulit. Jangan berangsur-angsur berdiam diri karena kebencian, disana kembali setan akan menyerang ruang-ruang sempit yang sudah mulai terisi oleh kebencian. Mau dikuasai setan?

Ingat Kebaikan Pasangan


Selain hal yang menimbulkan pertengkaran rumah tangga memang gak ada hal lain saat emosi sudah mulai menguasai hati. Padahal, dibandingkan hal yang menyakiti kita barusan, ada ribuan kebaikan yang mungkin sudah kita lupakan. Pasangan kita, melakukannya dengan penuh cinta dan keihlasan, itu yang harus selalu diingat. Dengan begitu, emosi bisa kita tekan dan kembali menggenggam erat tangannya, memahami perbedaan dan menciptakan kasih sayang dalam rumah tangga.

Ketulusan tidak bisa dibandingkan dengan kebencian, bukan?


"Bukankah pernikahan terjadi karena kita merasa bisa saling mengasihi dan berbagi kasih sayang?"

"Bukankah pernikahan terjadi karena kita saling memberi dan menerim satu sama lainnya?"

"Bukankah pernikahan ini, kita sendiri yang mau menjalankan?"

Dan yang pasti, Bukankah Allah sudah tau yang terbaik untuk kita, kamu dan hidupku.. akan menjadi satu bagian yang indah dalam bingkai rumah tangga. Sampai detik ini, aku masih mencintaimu.. katakan itu kepadanya..