"Setinggi apapun pangkatmu, seberapa banyak pun hartamu, engkau tetaplah seorang anak yang hutang budinya tak akan pernah lunas kepada ibu. Bahagiakan ibumu, maka semesta akan membukakan jalan kebahagiaan untukmu." -Kang Maman-
Dari banyaknya takdir yang digariskan oleh-Nya, ada kalanya saya termenung di sudut teras rumah mertua, memandang langit Kalimantan yang terasa begitu luas sekaligus asing.
Sambil memegang ponsel yang layarnya menampilkan aplikasi belanja, saya mendadak tersenyum sendiri. Antara heran, geli, tapi juga ada rasa haru yang membuncah di dalam dada.
Bagaimana mungkin, sebuah perjalanan hidup bisa membawa saya sejauh ini? Berpindah ribuan kilometer, menyeberangi lautan, hingga akhirnya terdampar di sebuah desa di Kecamatan Paser, Kalimantan Timur.
Sebuah tempat di mana jarak bukan lagi sekadar angka di peta, melainkan sebuah perjuangan nyata yang harus ditempuh dengan waktu, biaya, dan yang paling utama keikhlasan hati.
Kalau boleh jujur, kepindahan ini adalah sebuah transisi hidup yang luar biasa dahsyat bagi saya. Mengapa saya sebut dahsyat? Karena sebelum kaki ini menginjak tanah Borneo, saya sebenarnya baru saja mencicipi manisnya buah dari kerja keras kami selama bertahun-tahun.
Kami baru saja menikmati kenyamanan hidup di sebuah rumah baru. Rumah impian yang kami bangun dengan cucuran keringat, detail demi detail, sudut demi sudut, yang kami tempati belum lama. Tepatnya baru berjalan 2 tahun kurang 17 hari.
Bayangkan saja, di saat kami sedang hangat-hangatnya menata gorden, merawat taman kecil, dan menikmati setiap sudut rumah baru yang masih berbau cat segar itu, sebuah panggilan bakti datang.
“Nak.. Pulang ya…”
Mertua saya ibu dan ayah dari suami saya kini sudah semakin sepuh. Mereka hanya tinggal berdua di pelosok Kalimantan Timur, tanpa ada anak atau kerabat dekat yang menemani hari-hari tuanya.
![]() |
| Bersama Mbah dan Ninik.. |
Di sinilah perang batin itu sempat bergejolak. Meninggalkan rumah impian yang baru seumur jagung tentu bukan perkara mudah. Ada ego yang sempat berbisik,
"Kenapa harus sekarang?”
“Kenapa di saat kita baru saja punya tempat bernaung yang nyaman?"
“Kenapa di saat aku mulai punya banyak teman dan lingkungan yang menyenangkan?”
Dan kenapa kenapa yang lainnya…
Tapi, ingatan saya kembali pada notulen bijak dari Kang Maman tentang ibu. Bukankah ridha Allah ada pada ridha orang tua? Dan bukankah seberapa pun suksesnya kita, hutang budi pada seorang ibu tidak akan pernah bisa kita lunasi?
Akhirnya, dengan bismillah, ego itu saya lipat dalam-dalam. Kami mengemas barang-barang, mengunci pintu rumah impian kami, dan bersiap menghadapi sebuah perjalanan yang sangat panjang. Perjalanan batin dan perjalanan menempuh jarak yang sesungguhnya.
Perjalanan itu benar-benar menguji mental. Kami harus menempuh jalur darat, berpindah ke pelabuhan, lalu menyeberangi lautan yang luas dengan kapal laut.
Di atas kapal, memandangi ombak yang bergulung tanpa ujung, saya merenung tentang bagaimana bisa saya menjalani hari setelah ini?
Laut yang memisahkan pulau Jawa dan pulau Kalimantan ini terasa begitu angkuh, seolah-olah menegaskan bahwa hidup saya tidak akan pernah sama lagi seperti dulu.
Dan benar saja. Begitu kapal bersandar dan kami melanjutkan perjalanan darat menuju Paser, barulah saya tersadar bahwa realitas di depan mata jauh lebih menantang daripada yang saya bayangkan.
Culture shock itu Nyata
![]() |
| Ikon kota Paser |
Sebagai seorang mantu Jawa yang baru pindah ke Kalimantan, gegar budaya (culture shock) yang saya rasakan bukan cuma soal bahasa atau adat istiadat, melainkan tentang perang harga dan sulitnya akses logistik.
Saya yang sejak menikah sudah dimudahkan dengan segala fasilitas kota, tiba-tiba harus berbenturan dengan kenyataan pahit.
Di kota asal saya dulu, kalau anak-anak bosan dan mau beli mainan, ya tinggal gas motor, 5 menit langsung sampai ke toko.
Kalau sore-sore malas masak dan mau beli bakso, tinggal gas sebentar ke depan kompleks, tinggal pilih mau bakso urat, bakso telur, atau bakso malang. Mau nonton film terbaru di bioskop? Tinggal dandan rapi, berangkat, dan duduk manis di dalam studio ber-AC.
Di sini? Wah, jangan harap! Jangankan bioskop, Mall saja tidak ada di daerah tempat kami tinggal sekarang. Kalau tiba-tiba ngidam bakso, kami harus menempuh perjalanan sejauh puluhan kilo membelah jalanan Kalimantan yang panjang hanya untuk menuju ke kota.
Luar biasa kontras. Jarak seolah menjadi sekat tebal yang membatasi kami dari segala kemudahan duniawi.
Namun, yang paling membuat saya mengelus dada sebagai seorang ibu rumah tangga adalah harga bahan-bahan pokok di pasar lokal. Di sinilah letak perang yang sesungguhnya.
Karena kendala akomodasi yang panjang dan biaya transportasi antar pulau yang mahal, harga barang-barang di pelosok Kalimantan Timur ini melonjak drastis.
Kalaupun barangnya ada, harganya sering kali tidak masuk akal bagi dompet seorang berdarah Jawa seperti saya yang terbiasa dengan harga serba murah.
Puncaknya adalah ketika mertua saya mengeluhkan harga bawang merah di pasar lokal Paser.
Hari itu, ibu mertua pulang dari pasar dengan wajah lesu sambil membawa sekantong kecil bawang merah dengan harga yang sukses membuat saya terbelalak.
“Mahal sekali!”, Kata beliau…
Mamak mertua yang sudah puluhan tinggal di Kalimantan saja mengeluh, bagaimana dengan saya yang terbiasa dengan harga murah?. Saking tidak masuk akalnya harga itu, bumbu dapur yang sekecil itu rasanya sudah seperti barang mewah.
Melihat keresahan mertua, insting saya sebagai seorang yang hobi check out barang online langsung meronta-ronta. Sejak sebelum berangkat ke Kalimantan, saya memang sudah meniatkan diri untuk ikhlas dan tidak mau menyerah dengan keadaan
JNE, Partner Adaptasi Terbaikku Setelah Pindah ke Kalimantan
![]() |
| 3 dari banyaknya daftar belanjaan online |
Pengalaman 12 tahun mengenal media online dan berselancar di dunia digital rasanya sudah cukup membekali saya dengan banyak pelajaran berharga. Pikir saya, "Kalau akses fisik di sini terbatas, bukankah ada dunia digital yang tidak terbatas?"
Mertua saya awalnya sempat ragu dan heran ketika saya menawarkan solusi ini,
"Mak, gimana kalau kita beli bawang merahnya online saja dari seberang (pulau Jawa)?"
Beliau heran, bagaimana bisa bumbu dapur basah seperti bawang merah dikirim menyeberangi lautan? Apakah tidak busuk di jalan?
Di sinilah cerita tentang jarak yang terhubung itu menemukan pahlawannya. Saya nekat memesan bawang merah tersebut dari salah satu toko online di Jawa.
Dan tebak, siapa yang setia mengantarkan pesanan receh namun krusial itu sampai ke depan pintu rumah mertua di pelosok Kalimantan? #JNE.
JNE menjadi jawaban atas segala doa-doa kemudahan kami di sini. Kita semua tahu, belanja online memang solusi yang tidak ada duanya ketika kita terisolasi di daerah pelosok.
Namun, mempunyai barang belanjaan di keranjang digital tidak akan ada artinya tanpa adanya partner jasa kirim yang tepat, tangguh, dan paham medan pelosok. JNE adalah pilihan wajib yang tidak boleh salah.
Bisa kalian bayangkan, di daerah terpencil yang jalurnya menantang seperti ini, banyak ekspedisi yang membutuhkan waktu nyaris 2 minggu atau bahkan lebih, hanya untuk mengantarkan satu paket.
Kalau paketnya berupa baju atau barang mati sih tidak masalah, tapi kalau paketnya adalah bawang merah pesanan mertua? Bisa-bisa bumbunya berubah jadi kompos sebelum sampai di dapur.
Namun, JNE membuktikan kelasnya sebagai #ConnectingHappiness dan penyambung nadi kehidupan antar pulau. Luar biasanya, tidak sampai satu minggu sejak status check out di ponsel saya berubah, kurir JNE sudah mengetuk pintu rumah dengan senyum ramah.
Bawang merah pesanan kami mendarat dalam keadaan baik, Harganya? Jauh lebih murah meriah dibanding harga pasar lokal.
Kejadian itu seketika memecah ketegangan adaptasi saya di rumah mertua. Ibu mertua saya tersenyum lebar, matanya berbinar-binar melihat tumpukan bawang merah berkualitas yang selama ini beliau dambakan masih dengan tatapan nggak percayanya.
Hal yang sangat sepele dan receh, bukan? Cuma urusan bawang merah. Tapi bagi saya, momen sepele itulah yang membuat saya merasa jauh lebih bahagia dan bermakna sebagai seorang menantu.
Dari hal kecil ini yang kemudian Ayah mertua saya juga suka ikut meminta saya belanja, mulai hal remeh seperti lampu led, double tape bahkan sampai hal berat seperti lemari besi, kasur busa, perlengkapan mobilnya hingga sound system.
Saya sadar, meskipun saya terpaksa meninggalkan rumah baru yang sangat nyaman di Jawa, di sinilah tempat saya sekarang.
Di rumah mertua ini, meskipun dengan segala keterbatasan aksesnya, saya masih bisa berkontribusi besar dan membantu mengurus kebutuhan rumah tangga dan lainnya berkat keahlian digital saya.
Jarak ribuan kilometer antara kota asal saya dan pelosok Kalimantan kini berhasil dijembatani dengan manis oleh JNE.
Dari seluruh rangkaian perjalanan transisi hidup ini, pelan-pelan saya mulai membuka tabir makna kehidupan yang sesungguhnya. Saya belajar mendeskripsikan sumber kebahagiaan dari perspektif yang jauh lebih luas.
Jika dulu kebahagiaan saya diukur dari seberapa dekat jarak rumah dengan fasilitas kota, kini definisi itu telah bergeser total.
Kebahagiaan sederhana yang sepertinya sudah nggak sesederhana itu di tanah borneo ini adalah:
- Keikhlasan Berbakti: Mengetahui bahwa keberadaan kami di sini bisa menjadi teman mengobrol bagi mertua di masa tuanya, meskipun hanya sekadar membahas "kita mau makan apa hari ini?"
- Sinergi Teknologi dan Logistik: Bagaimana hobi check out online saya bisa menjadi solusi konkret untuk menghemat pengeluaran dapur mertua hingga kebutuhan Ayah mertua dari gempuran harga lokal yang mahal.
- Rasa Syukur pada Hal Kecil: Belajar menghargai setiap paket yang datang, setiap bumbu dapur yang segar, setiap perintilan yang ada dan setiap kemudahan yang masih bisa kita nikmati di tengah keterbatasan.
Jarak mungkin bisa memisahkan kita dari kemudahan-kemudahan kota besar. Jarak juga bisa membuat akomodasi menjadi panjang dan melelahkan.
Namun, selama ada cinta di dalam rumah, keikhlasan di dalam dada, dan partner logistik terpercaya seperti JNE yang selalu siap menghubungkan kita dengan dunia luar, maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak berbahagia.
Jangan menunggu hidup kita sempurna atau serba ada untuk bisa tersenyum. Bahagialah sekarang juga, dengan cara-cara sederhana yang diizinkan-Nya.
#JNE35BergerakBersama #JNEContentCompetition2026 #JNEBeragamCerita









0 comments: