Sunday, 13 November 2016

Usia Cantiknya, Memberi Banyak Pelajaran Hidup Untukku

"Mak.. mudahnya Sampean ngasih?"

Begitulah kata yang saya ucapkan kepada ibu saya, ketika beliau bercerita bahwa ada sepupu yang baru menikah akan meminjam uang kepadanya.

"Ya.. soale aku ngerti rasane ndok, pie rasane gak ndue duit tapi gak nok seng ngekei utangan, padahal kebutuhan mendesak"  (ya.. karena saya tahu bagaimana rasanya tak punya uang dan gak ada yang memberi pinjaman sedangkan kita butuh sangat mendesak)

Tentu saja, ada banyak kisah yang bisa saya jadikan pelajaran hidup dari kisah emak saya. Bagaimana beliau berperilaku kepada saudara, tetangga, kepada suami, kepada anak-anaknya bahkan kepada uang yang ia miliki. Semuanya tertata, cermat! Dibalik kemurahan hati Ibu saya, ada berjuta cerita sedih yang sudah beliau lalui.

Emak, saya dan kedua adik saya :)


Kala itu, tahun 1990 kami sekeluarga adalah seorang transmigran yang ada di Sumatera Utara. 8 tahun berada disana, sukses membuat saya menjadi gadis yang tidak mudah bergaul karena hidup ditengah hutan. Pekerjaan emak dan bapak saya adalah membelah hutan dan mencoba menyulapnya menjadi lahan yang pantas untuk ditinggali dan bercocok tanam. Tak heran jika ibu saya yang seorang wanita ini harus melakukan pekerjaan-pekerjaan kasar di lahan rimbun dan seolah tak peduli wajahnya terkena  teriknya sinar matahari setiap hari. Dari mencangkul, potong rumput sampai mencari kayu bakar semua sudah dilakoninya.

Mungkin, saat itu tidak ada dalam kamus emak saya untuk menjaga kulitnya. Bagaimana tetap halus atau tetap cerah seperti yang sering dilakukan oleh wanita kebanyakan. Bahkan ancaman sinar matahari yang bisa menyebabkan wajahnya rusak serta masalah lain seperti keriputpun diabaikannya. Andai beliau bisa, andai beliau mampu.. saya yakin sebagai wanita, ia pasti ingin merawat kulitnya dengan baik.



Tentu saja bukan tanpa sebab kenapa ibu saya begitu cueknya dengan wajah cantik yang ia miliki. Keadaanlah yang memaksanya untuk terus menyakiti wajahnya. Hanya bahan-bahan alami seperti sayuran dan buah-buahan yang ia tanamlah yang membantu memperbaiki kulit wajahnya, tanpa ia sadari. Toko-toko kosmetik yang jauh dan sangat sulit dijangkau dari tempat kami. Jikapun ada, mereka hanya menyediakan kebutuhan pokok saja. Pasar yang baru bisa dijamah dengan berjalan kaki selama semalam suntuk serta membelah gelapnya hutan dengan penerangan jalan seadanya, lampu minyak tanah. Jangankan setiap hari, belum tentu dalam sebulan kami bisa melihat hiruk pikuk pasar.

Saat ini, noda-noda hitam diwajahnyalah yang menjadi saksi bagaimana kerasnya ia menjalani kehidupan masa mudanya. Bukan hanya secara lahir saja yang bisa terlihat oleh orang lain. Tapi, lebih kepada batin yang terlihat dari bagaimana beliau menyikapi setiap masalah yang ada. Lebih sabar, lebih cermat dalam keuangan, bijaksana dan selalu menjalin komunikasi yang baik dengan kami anak-anaknya serta tidak menggampangkan kemudahan dan fasilitas.



Beruntunglah kita, yang hidup dengan  kecukupan, kemudahan dan fasilitas yang serba ada. Kita bisa melakukan apapun yang kita mau tanpa terhalang situasi dan akomodasi. Kita bisa berkarya sebebas yang kita mau tanpa terhalang keadaan yang memaksa kita tidak bisa. Justru keinginan dalam dirilah yang harus selalu dipacu untuk terus melahirkan karya-karya terbaik yang orang lain butuhkan. Ya.. hanya keinginan dalam diri. Tanpanya, sama saja kita seperti hidup berada dalam hutan, tanpa lampu, tanpa internet, tanpa fasilitas. Hutan yang kita ciptakan sendiri.

Begitulah kisah ibu saya dan pelajaran yang dapat saya bagi, wanita kelahiran tahun 1971 ini hingga kini masih sehat di usia cantiknya. Guratan wajahnya yang semakin terlihat, menandakan usianya kini kian berharga, tak peduli bagaimana ia dulu berusaha dengan sangat keras akan hidup, kini saya hanya berharap semoga beliau semakin bahagia menjalani usia cantiknya.

Saya sendiri bertanya-tanya, apakah saya bisa memiliki wajah dan kepribadian yang sama saat  bertemu dengan usia cantik saya nanti. Akankah saya bisa seperti ibu saya yang bisa mempertahankan kecantikannya hingga usianya semakin bertambah seperti sekarang. Yang bisa saya lakukan hanyalah memanfaatkan kesempatan dan kemudahan fasilitas dengan mulai merawat wajah mulai sekarang, semoga diusia cantik saya kelak, saya bisa sebersinar ibu saya, bahkan bisa lebih baik darinya.

Lomba blog ini diselenggarakan oleh BP Network dan disponsori oleh L’Oreal Revitalift Dermalift.


8 comments:

  1. Mba..terus dari Sumatera Utara pindah ke Jawanya lagi kapan? Bener-bener luar biasa ibunya..saluuut.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya sih duluan baliknya, terus orang tua kembali ke Sumatra lagi sama adek saya yang cowok, emmm kira-kira tahun 2004'an mereka menetap di Jawa :D

      Delete
    2. Lho berarti Mbak Inuel ra bolak-balik Sumatra-Jombang? Duh perjuangan bener-bener ya.. Aku merasa tertampar selama ini kurang bersyukur

      Delete
    3. Dulu, sekarang sudah satu pulau hihi..

      Delete
  2. Salam ya sama ibunya Mbak Inuel.

    ReplyDelete
  3. wah dirikuh dan ibunya Inuel hanya terpaut setahun :) Kami memang sama2 sudah masuk usia cantik. Memang keras perjuangan ibu dan tentu juga ayah ya, semoga mereka berdua sehat selalu. Amin. Titip salam untuk ibunya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haruskah kupanggil Mba Ria, Bun ahhahahaa

      Delete