Tuesday, 3 March 2026

Caraku Membangun Kesadaran Diri dan Konsep Ibadah Menyenangkan Kepada Anak

Dari sekian banyak memori masa kecil yang saya simpan rapat-rapat, ada satu fragmen yang sering kali muncul ke permukaan setiap kali hilal Ramadan mulai tampak. Memori tentang rasa haus yang mencekik, perut yang perih, dan perasaan "terpaksa" yang dulu sempat mewarnai hari-hari puasa saya. Dulu, saya melihat ibadah seolah-olah sebuah kewajiban yang berat -sebuah beban yang harus dipanggul agar tidak kena marah orang tua atau dianggap kurang shalihah.

Namun, seiring berjalannya waktu, terlebih setelah saya banyak berliterasi dan mengenal belahan jiwa saya, perspektif saya tentang ibadah berubah total. Ibadah bukan tentang penderitaan. Ibadah adalah tentang cinta. Dan nilai itulah yang kini, bersama Abi, berusaha kami tanamkan kuat-kuat pada kedua buah hati kami Mas Kinza dan Adek Zayn

Drama Pagi dan Keluh Kesah Si Adek

Ramadan tahun ini, rumah kami kembali riuh dengan dinamika belajar puasa. Si Adek, yang memang masih kecil, sedang berada di fase banyak drama. Jujur saja, ada kalanya kesabaran saya diuji (banyak-banyak istighfar!) saat melihat tingkahnya di pagi hari.

Mulai dari sulitnya dibangunkan sahur, yang berujung pada aksi merem-merem ayam di depan piring, sampai keluhan-keluhan yang muncul bahkan sebelum matahari benar-benar tinggi.

 "Ummi, Adek pusing...", "Ummi, haus banget, hausss...", hingga permintaan memegang handphone terus-menerus sebagai pelarian dari rasa laparnya.

Melihat Adek yang rewel, ingatan saya melayang pada diri saya dulu. Bedanya, dulu saya tidak punya keberanian untuk mengeluh. Saya tidak ingin Adek merasakan hal yang sama. Saya tidak ingin dia menganggap Ramadan sebagai bulan penyiksaan yang penuh larangan.

Kontras Luar Biasa, Keteguhan Si Mas

Di sisi lain, saya dibuat takjub sekaligus terharu melihat perkembangan Si Mas. Mas kini sudah tumbuh menjadi sosok yang mandiri dengan mental yang (masyallah) sangat kuat di usianya yang belum genap 12 tahun. Ada sebuah kedewasaan yang melampaui usianya ketika dia melihat kondisi saya.

Seperti hari ini, saat saya sedang berhalangan (haid). Mas sama sekali tidak goyah. Dia sudah sangat paham konsep bahwa Ummi yang sedang haid tidak boleh shalat, tidak boleh mengaji, dan tentu saja tidak berpuasa. Adek? Oh, tentu saja Adek belum sampai di sana pemikirannya. Dia hanya tahu kalau Ummi makan, dia pun ingin ikut makan.

"Ummi enak nggak puasa... Ummi enak bisa minum.."

Begiu terus teriakan si adek padahal saya nggak pernah makan di depannya. Meskipun begitu, saya nggak ada niat untuk membohonginya. Saya menjelaskan dengan terang, kalau orang haid nggak boleh berpuasa namun tetap harus mengganti setelah ramadhan usai.

Tapi Mas berbeda. Dia tetap teguh pada niatnya. Dia tidak protes saat melihat saya minum atau menyiapkan makanan. Baginya, puasanya adalah urusan dia dengan Sang Pencipta. Melihatnya begitu sadar diri dalam melakukan ibadah, mulai dari shalat yang tak pernah tertinggal, hingga rutin mengaji setiap pagi untuk menambah hafalan (meski kecepatannya tidak sefantastis anak-anak di sekolah tahfidz), membuat hati saya sejuk.

Saya menyadari, kemandirian Mas hari ini bukanlah hasil dari paksaan atau bentakan di masa lalu. Ini adalah buah dari benih yang kami tanam beberapa tahun lalu: benih pemahaman bahwa ibadah itu harus menyenangkan. Mas nggak harus berpuasa penuh diusianya yang memang ditahap belajar dan belum wajib untuk berpuasa.

Kami sedang menyiapkan mental baja yang tahan banting, seperti yang sudah dilakukan mas saat ini.

Pesan dari Abi, Ibadah Itu Jangan Menyakitkan

Ada momen ketika Si Adek merengek hebat, mengeluh lapar yang tak tertahankan, dan kepalanya sakit (entah itu alasan asli atau sekadar "bumbu" agar diizinkan berbuka). Saya sempat ragu, haruskah saya memintanya bertahan satu atau dua jam lagi?

Namun, Abi dengan bijak mengambil peran. Tanpa nada marah, tanpa mata melotot, Abi langsung berkata pada Adek, 

"Kalau memang nggak kuat dan pusing, ya sudah, Adek boleh makan dan minum sekarang. Ayo berbuka."

Mungkin bagi sebagian orang tua, tindakan ini dianggap "terlalu lembek." Tapi bagi kami, ini adalah strategi jangka panjang. Abi selalu menekankan satu hal kepada saya dan anak-anak:

Ibadah itu harus menyenangkan. Jangan menunggu sampai menyakitkan baru kita berhenti. Kita ingin mereka rindu puasa, bukan trauma karena puasa.

Kami tidak ingin Adek merasa puasa adalah penjara. Kami ingin dia tahu bahwa kemampuannya dihargai, dan ketika dia merasa fisiknya benar-benar tidak sanggup, ada ruang kasih sayang di sana. Kami memberikan kepercayaan padanya. Jika pun alasan sakit kepalanya itu palsu atau sekadar drama remaja kecil, kami memilih untuk percaya. Karena dengan dipercaya, anak akan belajar untuk jujur pada dirinya sendiri di kemudian hari.

Hasil dari Sebuah Konsistensi

Apa yang kami lakukan pada Adek sekarang adalah replika dari apa yang kami terapkan pada Mas dulu. Kami memberikan kelonggaran saat mereka masih tahap belajar, sambil perlahan menyuntikkan pemahaman tentang esensi syukur dan nikmatnya berpuasa di bulan suci.

Hasilnya? Mas sekarang menjadi saksi hidup dari metode ini. Dia tidak lagi butuh disuruh-suruh untuk shalat. Dia tidak lagi perlu diingatkan untuk mengambil Al-Qur'an. Kesadaran itu muncul dari dalam (internalized), karena dia merasa bahagia saat menjalaninya. Dia merasa ibadah adalah kebutuhannya untuk tetap terhubung dengan Allah, bukan sekadar menggugurkan kewajiban di depan orang tua.

Bagi saya, melihat Mas tetap fokus menambah hafalannya setiap pagi—meski sedikit demi sedikit—adalah prestasi yang jauh lebih besar daripada sekadar lulus ujian dengan nilai sempurna. Dia menikmati prosesnya. Dia mencintai kegiatannya itu yang lebih penting.

Belajar Bahagia Lewat Ibadah

Teringat kembali saya pada kutipan dalam buku Bahagia Bersama karya Kang Maman yang pernah saya baca. Di sana disebutkan bahwa kebahagiaan itu menular. Jika kita sebagai orang tua menjalankan ibadah dengan wajah yang cerah dan hati yang lapang, maka anak-anak akan melihat bahwa 

"Oh, beragama itu ternyata membahagiakan, ya?"

Saya tidak ingin menjadi orang tua yang hanya bisa menuntut anak untuk sholih tapi lupa meliterasi diri sendiri tentang cara mendidik dengan cinta. Saya sadar, dalam memberikan kasih sayang dan pemahaman pada anak memang membutuhkan kesabaran dan proses yang panjang.

Membangun mentalitas anak yang mencintai ibadah memang butuh waktu yang tidak sebentar.  Pendidikan karakter anak pun adalah perjalanan maraton, bukan lari sprint, bertahap namun pasti.

Penutup, Biarkan Mereka Mencintai dengan Caranya

Ramadan kali ini memang penuh dengan drama Adek yang rewel dan keluhan haus yang berulang-ulang. Tapi di balik itu semua, saya melihat ada progres. Saya melihat ada kedekatan yang terbangun antara anak dan orang tua saat kami duduk bersama mendiskusikan kenapa Adek merasa lapar atau kenapa Mas begitu kuat bertahan.

Goals kami tetap sama: Anak-anak bisa mencintai ibadah puasa itu sendiri tanpa harus merasa terpaksa.

Kita ingin mereka berpuasa bukan karena takut pada "tongkat" orang tua, tapi karena mereka tahu ada kebahagiaan besar yang menanti di saat berbuka, dan ada pahala yang indah dari Sang Pencipta.

Untuk teman-teman bloger atau para orang tua di luar sana yang mungkin sedang menghadapi drama serupa di rumah: Jangan patah semangat. Jangan terlalu keras. Ingatlah bahwa setiap anak memiliki garis start dan kecepatan lari yang berbeda-beda.

Biarkan mereka mengenal Tuhan dengan cara yang indah. Karena jika fondasinya adalah rasa cinta dan kesenangan, maka bangunan iman di atasnya akan berdiri kokoh hingga mereka dewasa nanti. Sama seperti si Mas, saya yakin suatu saat Adek pun akan sampai di titik itu—titik di mana dia tidak lagi butuh alasan untuk taat, karena hatinya sudah menemukan rumah dalam ibadah.

Sunday, 22 February 2026

Beda Pola Asuh dengan Orang Tua? Ini Cara Menghadapi Mertua yang Suka Memarahi Anak

 "Apa kabarnya Aku, apakah kamu sudah mulai terbiasa dengan riuh rendahnya suara di rumah ini?"

Atau mungkin pertanyaannya seharusnya, "Apakah hatimu sudah cukup lapang untuk menampung segalanya hari ini?" Karena jujur saja, hidup dalam satu atap bersama orang tua atau mertua, sembari membesarkan anak-anak yang sedang aktif-aktifnya, bukanlah sebuah perkara yang bisa diselesaikan hanya dengan kata "sabar."


Dulu, saya mungkin termasuk orang yang sering membatin saat melihat adik saya begitu reaktif ketika anaknya dibanding-bandingkan oleh ibunya. Saya sempat menganggapnya sedikit "lebay." 

Saya pikir, ah, namanya juga orang tua, paling cuma bicara saja. Tapi ternyata, semesta punya cara unik untuk memberi pelajaran. Kini, ketika saya sendiri yang berada di garis depan, merasakan bagaimana rasanya anak sendiri dikomentari, dimarahi, bahkan dibandingkan dengan cucu yang lain... barulah saya paham.

Ternyata, jika sudah menyangkut anak, setebal apa pun telinga kita, hati tetap saja bisa teriris.

Tinggal di rumah orang tua/mertua atau dalam kasus banyak orang, mertua adalah sebuah seni navigasi yang sangat rumit. Di satu sisi, ada rasa syukur karena masih bisa berbakti dan dekat dengan keluarga. Namun di sisi lain, ada benturan ego, perbedaan pola asuh (parenting), dan batas-pembatas yang sering kali kabur.

Rumah saya setiap harinya tidak pernah sepi. Anak-anak saya adalah tipe yang super aktif, mereka adalah definisi dari "energi yang tidak ada habisnya." Bagi saya sebagai ibunya, keramaian itu adalah tanda mereka sehat dan bahagia. 

Tapi bagi orang tua yang sudah memasuki usia senja, yang mungkin mendambakan ketenangan, keramaian ini sering kali dianggap sebagai "gangguan."

Sering kali, saya harus menahan napas saat mendengar suara tinggi mbahnya memarahi anak-anak hanya karena hal sepele. Rasanya ada sesuatu yang bergejolak di dada sebuah insting protektif seorang ibu yang ingin berteriak, "Jangan marahi mereka seperti itu!"

Lebih menyakitkan lagi adalah ketika "senjata" perbandingan mulai dikeluarkan. "Lihat itu cucu yang sana, anteng, nurut, nggak kayak anakmu yang pecicilan." 

Kalimat sesederhana itu dampaknya luar biasa. Ia tidak hanya melukai harga diri saya sebagai orang tua, tapi juga perlahan bisa merusak konsep diri anak jika mereka terus-menerus mendengarnya. 

Saya tersadar, ini bukan soal lebay atau tidak, ini soal menjaga kewarasan dan menjaga mental anak-anak kita.

Kita sedang bertarung dalam dua peran sekaligus: menjadi anak yang berbakti (yang tidak boleh membangkang) dan menjadi orang tua yang melindungi (yang harus punya prinsip).

Bagi teman-teman yang saat ini sedang "berjuang" di medan perang yang sama mendidik anak di bawah atap orang tua atau mertua saya ingin berbagi beberapa refleksi dan tips yang selama ini saya coba terapkan. 

Bukan karena saya sudah sukses melakukannya, tapi karena kita sama-sama sedang belajar.

  • Komunikasi "Pintu Belakang" dengan Mertua/Orang Tua

Jangan mencoba menegur orang tua di depan anak saat mereka sedang memarahi atau membandingkan anak kita. Itu hanya akan menciptakan perpecahan otoritas. Tunggulah saat suasana tenang, saat sedang ngeteh sore atau sekadar duduk santai.

Gunakan kalimat yang tidak menyalahkan, misalnya: "Mak, aku tahu anak-anak kadang bikin pusing, tapi kalau boleh, kalau mereka salah biar aku yang kasih pengertian ya. Aku khawatir kalau sering dibanding-bandingkan, nanti mereka malah jadi minder dan nggak sayang sama sepupunya sendiri."

  • Membangun "Benteng" Mental untuk Anak

Jika kita tidak bisa mengontrol mulut orang lain (termasuk orang tua sendiri), maka kitalah yang harus mengontrol apa yang masuk ke telinga anak. Setiap malam sebelum tidur, lakukan pillow talk. 

Jika si kecil tadi siang dibanding-bandingkan, katakan padanya: "Tadi Mbah bilang begitu karena mungkin Mbah lagi capek. Kamu tetap hebat dengan caramu sendiri, tapi besok kita coba lebih sopan ya supaya Mbah nggak kaget." 

Berikan validasi bahwa mereka berharga, terlepas dari apa yang dikatakan orang lain.

  • Konsistensi di Tengah Gempuran "Lampu Hijau"

Masalah klasik tinggal bareng orang tua adalah: kita bilang "tidak," tapi mbahnya bilang "boleh." Misalnya soal es krim atau jam tidur. Di sini, kita harus tegas tanpa harus galak. 

Jelaskan pada anak bahwa aturan di rumah tetap mengikuti aturan Ayah dan Ibunya. Katakan pada orang tua dengan lembut bahwa kita sedang mencoba mendisiplinkan anak demi kebaikan kesehatan mereka jangka panjang.

  • Jadilah "Peredam" yang Cerdas

Anak-anak yang super aktif memang membutuhkan ruang untuk menyalurkan energi. Jika di dalam rumah orang tua banyak barang pecah belah atau lingkungan yang menuntut ketenangan, sesekali ajaklah anak keluar.

 Taman, lapangan, atau sekadar jalan-jalan di teras. Ini akan mengurangi frekuensi gesekan antara anak yang "ramai" dan orang tua yang butuh "sepi."

  • Jangan Masukkan ke Hati 

Ini yang paling sulit. Kadang kita harus belajar membedakan mana komentar yang perlu dijawab dan mana yang cukup masuk kuping kanan keluar kuping kiri. 

Kalau setiap komentar mertua kita masukkan ke hati, kita akan kehabisan energi untuk mengurus anak. Fokuslah pada tujuan utama: membesarkan anak yang bahagia dan sehat secara mental.

Menjadi orang tua di rumah orang tua memang terasa seperti berjalan di atas tali tipis. Kita sering merasa bersalah; merasa gagal menjadi anak yang menyenangkan bagi orang tua kita, sekaligus merasa gagal menjadi pelindung bagi anak kita.

Tapi ingatlah satu hal, literasi tentang pola asuh zaman dulu dan sekarang memang berbeda jauh. Orang tua kita dulu mendidik kita dengan cara yang mereka tahu yang mungkin penuh dengan perbandingan dan ketegasan fisik karena itulah yang mereka dapatkan dulu. 

Mereka tidak punya akses ke artikel parenting atau seminar daring seperti kita sekarang.

Memahami hal ini bukan berarti membenarkan tindakan mereka, tapi setidaknya membuat hati kita sedikit lebih lunak untuk memaafkan.

Saya kini belajar untuk tidak lagi menghakimi siapa pun yang merasa lelah tinggal satu atap dengan keluarga besar. Cobaan soal anak memang luar biasa. 

Ia menguras emosi, menguji kesabaran, dan sering kali membuat kita ingin menyerah. Namun, di sinilah karakter kita dibentuk. Kita belajar untuk lebih bijak, lebih mampu menahan lisan, dan lebih kuat dalam memegang prinsip.

Untuk kamu yang sedang berjuang di luar sana, yang mungkin malam ini menangis diam-diam karena sakit hati mendengar anakmu dibanding-bandingkan: kamu tidak sendirian. 

Peluk erat anak-anakmu. Mereka tidak butuh rumah yang mewah atau lingkungan yang sempurna, mereka hanya butuh ibu yang percaya bahwa mereka istimewa, apa adanya.

Seperti kata pepatah, "It takes a village to raise a child," tapi kalau desanya sedang riuh dan penuh gesekan, pastikan kamu tetap menjadi "rumah" yang paling nyaman dan aman untuk anak-anakmu kembali.


Tuesday, 23 December 2025

Refleksi Hari Ibu, Tentang Seni Membalas Budi

Sudah sekitar dua bulan saya bertukar langit. Dari Jombang, Jawa Timur, yang suasananya masih kental dengan getaran "Kota Santri" yang tenang, ke daratan Kalimantan yang luasnya bikin saya merasa seperti butiran debu di tengah peta. Pindah pulau itu bukan cuma soal packing baju dan urusan ekspedisi, tapi soal adaptasi mental yang luar biasa.

Kalau di Jombang panasnya masih ada sisa-sisa angin sepoi-sepoi dari sawah, di Kalimantan sini panasnya seperti matahari sedang melakukan test drive tepat di atas ubun-ubun. Tapi, tantangan terbesar saya sebenarnya bukan suhu udara, melainkan fase hidup baru, tinggal satu atap dengan mertua.


Banyak orang bilang, menantu dan mertua itu seperti minyak dan air, susah nyampur. Tapi, buat saya, Mama (begitu saya memanggil ibu mertua saya) sudah saya anggap seperti ibu sendiri. Beliau adalah sosok pejuang yang "pendiam." Beliau seorang pensiunan PNS Guru. 

Dari profesi mulia itulah, beliau berhasil menuntaskan misi yang mungkin kalau dihitung pakai logika matematika biasa, hasilnya bakal error, menyekolahkan empat anaknya sampai lulus termasuk suami saya ke perguruan tinggi. 

Bayangkan, di era sekarang, biaya masuk kuliah sudah setara dengan harga motor matic terbaru per semesternya. Tapi beliau, dengan gaji guru dan segala keterbatasan di masa itu, berhasil mengantarkan semua anaknya ke pintu gerbang yang lebih baik. Beliau adalah arsitek masa depan anak-anaknya, meski beliau sendiri jarang menikmati kemewahan bangunan yang beliau bangun itu.

"Mama Nggak Pernah Beli Roti Enak Sendiri"

Kejadiannya sore itu, di tengah cuaca Kalimantan yang sedang gerah-gerahnya. Saya pulang membawa sebuah tentengan kecil. Sebuah roti dari toko yang tampilannya cukup mencolok, tipe roti yang sedikit premium yang teksturnya selembut awan, aromanya wangi mentega mahal, dan kalau digigit, rasanya seperti ada pesta di dalam mulut.

Di Jombang dulu, mungkin saya sering jajan begini tanpa mikir panjang. Tapi di sini, momen jajan ini jadi pembuka mata yang luar biasa. Saat kami duduk santai di dapur, saya menyodorkan roti itu ke Mama. Beliau mengambil potongan kecil, mencicipinya, lalu menatap roti itu seolah sedang melihat benda asing dari luar angkasa.

Dengan nada yang sangat datar, bukan nada mengeluh, tapi nada jujur yang menusuk, beliau berkata, "Mama nggak pernah beli roti enak sendiri"

Kalimat itu cuma tujuh kata. Singkat, padat, tapi efeknya buat saya seperti kena stunning di tengah game. Saya terdiam. Ada rasa nyesek yang tiba-tiba naik ke tenggorokan.

Saya melihat sosok di depan saya ini. Seorang perempuan yang sudah puluhan tahun berdiri di depan kelas, mengajar ribuan murid, mengoreksi ribuan kertas ujian, dan menghabiskan sisa energinya untuk memastikan empat anaknya bisa makan layak dan sekolah tinggi. 

Ternyata, dalam proses "membesarkan" orang lain, beliau lupa "membesarkan" dirinya sendiri. Beliau bahkan tidak pernah mengizinkan lidahnya mengecap sepotong roti enak karena di kepalanya, uang itu selalu punya peruntukan yang lebih penting, semesteran anak, sepatu sekolah anak, atau biaya kos anak.

Matematika Kasih Sayang, Kenapa Ibu Selalu Memilih "Roti Biasa"?

Kalau kita bedah secara psikologis, kenapa ya seorang ibu, apalagi yang punya penghasilan tetap, bisa sampai se-ironis itu dalam memanjakan diri? Ada tiga alasan yang saya temukan setelah merenung berhari-hari:

1. Ego yang "Sudah Mati" Demi Anak Seorang ibu adalah makhluk paling aneh di dunia. Mereka punya kemampuan untuk menekan rasa lapar dan keinginan pribadi sampai ke titik nol. Di kepala Mama, uang 20 ribu atau 50 ribu itu tidak pernah dilihat sebagai "roti enak untuk saya." Tapi selalu dilihat sebagai "uang ini bisa buat beli lauk buat semua orang." Selama puluhan tahun, beliau sudah terbiasa menaruh dirinya di urutan paling buncit di daftar prioritas.

2. Trauma Hemat di Masa Sulit, Menyekolahkan empat anak sampai kuliah dengan gaji guru itu butuh manajemen keuangan yang lebih ketat daripada anggaran negara. Kebiasaan hidup super irit ini akhirnya jadi "karakter." Bahkan setelah anak-anaknya sukses dan beliau punya uang pensiun, mentalitas itu tetap ada. Mungkin beliau merasa "berdosa" kalau harus beli sesuatu yang bersifat kemewahan kecil. Baginya, itu pemborosan. Beliau sudah lupa caranya bersenang-senang untuk diri sendiri.

3. Kebahagiaan yang "Dititipkan" ke Anak, Banyak ibu merasa sudah kenyang kalau melihat anaknya kenyang. Mereka merasa sudah pakai baju bagus kalau melihat anaknya pakai baju bagus. Ini manis, tapi sekaligus tragis. Karena seringkali, kita sebagai anak malah jadi "tuman" atau terbiasa menerima, sampai lupa kalau ibu kita juga manusia yang punya indera perasa.

Membahagiakan Ibu, Bukan Pilihan, Tapi Utang Nyawa

Momen Hari Ibu biasanya penuh dengan ucapan selamat di WhatsApp, postingan foto di Instagram dengan caption puitis, atau hadiah bunga yang besoknya layu. Tapi lewat kejadian roti ini, saya sadar,  membahagiakan ibu itu bukan soal seremoni setahun sekali. Itu adalah misi harian.

Membahagiakan ibu dan mertua adalah wajib. Kenapa? Karena kita tidak akan pernah bisa membayar "waktu" yang mereka buang demi kita. Kita tidak bisa membayar setiap kecemasan mereka saat kita sakit, atau setiap doa yang mereka bisikkan di tengah malam saat kita bahkan lupa untuk berdoa.

Kita sering bilang, "Nanti kalau sudah kaya banget, saya mau ajak Mama keliling dunia." Padahal, mungkin Mama nggak butuh keliling dunia. Mungkin beliau cuma butuh di hari tuanya, dia bisa makan roti enak tanpa rasa bersalah. Beliau butuh rasa aman bahwa di sisa hidupnya, ada yang menemaninya bicara dan mendengarkan setiap keluh kesahnya.

Pengorbanan ibu itu tanpa batas, maka bakti kita juga harusnya tidak punya syarat. Jangan tunggu kita punya harta berlimpah baru mau berbakti. Berbakti itu dimulai dari hal-hal kecil yang "melek" empati.

Tips Menjadi Anak/Menantu yang Lebih Peka

Setelah dua bulan di Kalimantan dan belajar dari "Tragedi Roti Premium" ini, saya punya beberapa tips buat kita semua agar lebih peka terhadap orang tua kita.

  • Jangan Tanya "Mau Apa?", Tapi Langsung "Ini Buat Mama." Kalau kita tanya mau apa, jawabannya pasti "nggak usah, Mama masih punya" atau "uangnya disimpan saja." Langsung saja belikan. Kalau perlu, pakai "kebohongan putih" soal harganya supaya beliau nggak kepikiran.
  • Scan Sekitar, Apa yang Sudah Usang? Lihat sendal jepitnya, lihat selimutnya, lihat HP-nya. Biasanya orang tua bakal pakai barang sampai benar-benar hancur baru ganti. Jadilah orang yang menggantinya sebelum barang itu rusak.
  • Hadirkan "Kemewahan" dalam Keseharian Kemewahan buat orang tua itu sederhana, ditemani ngobrol, dibelikan makanan favorit, atau diajak jalan-jalan sore tanpa ada gangguan HP.

Penutup dari saya, perjalanan dari Jombang ke Kalimantan ini mengajarkan saya satu hal penting. Jarak ribuan kilometer tidak ada artinya kalau hati kita tetap dekat. Menjadi menantu bukan berarti menjadi orang asing, tapi menjadi anak tambahan yang punya tugas baru, memastikan sisa hidup orang tua kita penuh dengan rasa aman dan nyaman.

Mama mungkin tidak pernah membeli roti enak untuk dirinya sendiri selama puluhan tahun demi suami saya dan saudara-saudaranya. Maka sekarang, adalah tugas kami untuk memastikan beliau tidak pernah lagi harus memakan "roti yang biasa saja."

Kereta kehidupan terus melaju, dan orang tua kita tidak semakin muda. Di Kalimantan yang panas ini, saya belajar bahwa kesejukan yang sesungguhnya bukan berasal dari AC yang menyala 24 jam, melainkan dari senyum seorang ibu yang merasa dihargai di hari tuanya.

Kisah Mama dan roti premium ini jadi alarm buat saya. Jangan sampai kita menjadi anak yang sukses, ibarat berada di puncak gedung pencakar langit, tapi membiarkan pondasi bangunan itu, yaitu orang tua kita tetap berada di ruang bawah tanah yang gelap dan dingin.

Perjuangan ibu itu tanpa batas, maka balas budi kita pun harusnya melampaui logika. Kalau hari ini kamu bisa makan enak, pastikan ibumu atau mertuamu merasakannya juga. Jangan biarkan mereka hanya menjadi penonton dari kesuksesan yang mereka bangun sendiri dengan air mata dan keringat.

Sebab, pada akhirnya, bukan seberapa tinggi gelar yang kita punya, tapi seberapa lebar senyum yang bisa kita hadirkan di wajah mereka sebelum waktu mereka habis. Dan percayalah, melihat Mama menikmati roti enak dengan tenang, rasanya jauh lebih memuaskan daripada makan roti paling mahal sedunia sendirian.

Hari Ibu bukan cuma soal tanggal 22 Desember. Setiap hari di mana kita bisa membuat mereka tersenyum dan merasa dihargai, itulah Hari Ibu yang sesungguhnya. Karena pada akhirnya, bukan seberapa tinggi jabatan kita yang akan dikenang, tapi seberapa hangat cara kita memperlakukan mereka yang sudah menghabiskan hidupnya untuk kita.


Wednesday, 30 July 2025

Belajar Cara Meraih Kesuksesan dari Anak-anak di China

Kadang aku suka heran sendiri. Pernah nggak sih kalian kepikiran, kenapa anak-anak di China bisa segitunya kalau urusan belajar?

Jam 7 pagi udah duduk manis di kelas. Pulang sekolah? Les. Malam? PR sampai jam 9. Libur? Diisi lomba, bahasa asing, atau jualan online.

Anak Indonesia belajar di lantai
Ilustrasi anak sedang belajar

Anak-anak SD, lho. Bisa tiga bahasa dan udah ngerti konsep digital marketing. Sementara di rumah kita, anak-anak masih heboh nyari crayon yang ilang satu warna. Bahkan mungkin ada yang sibuk pamerin harga orang tuanya buat ngebuli temannya yang kurang mampu 🤦🏻‍♀️.

Thursday, 6 February 2025

Mendidik Anak, Itu Urusan Orang Tua Bukan Orang Lain

MasyaAllah.. Luar biasa,

Hari ini Mas Kinza nggak sekolah karena tangannya cedera, bengkak dan sakit akibat waktu pulang dari mushola, mas Kinza jalan diatas pasir di perumahan yang akhirnya bikin dia terjatuh.

Setelah itu si Mas ngeluh sakit dan akhirnya pagi tadi tangannya bengkak dan keras, betull.. sepertinya ototnya mas Kinza kaget karena hentakan hebat menopang tubuhnya saat jatuh.

Karena kami adalah sekte jangan mudah berpijet-pijet ria, Abi memutuskan untuk sementara tidak membawa mas Kinza ke tukang pijit.

Sepertinya hanya butuh waktu aja buat cederanya bisa sedikit mereda. Sementara itu, seharian ini mas Kinza tidur-tiduran terus menerus, seperti malas mau ngapa-ngapain padahal yang sakit tangannya haha.

Kebetulan juga, ada temen pamer bunga di saya terus kita saling cerita kalau anakku sakit, sementara anaknya juga sakit karena habis minum air dari tremos panas.

Bedanya, dia langsung main kerumah sambil bawa salak, kerupuk dan donat sambil naik sepeda ontel, dan saya nggak kerumahnya hahahaha. Masih bingung masuk gang yang mana dan anaknya juga usah seminggu yang lalu sakitnya.

Cara Mendidik Anak

Dirumah kami ngobrol banyak, tentang anak-anak. Gimana cara mendidik mereka.

"Apakah cara mendidik saya terlalu keras ya" Katanya..

Sementara saya yang mendidik anak dengan kerasnya cuma senyum senyum aja hahha..

Jadi begini..

Setiap keluarga itu punya cara masing-masing buat mendidik anak-anak mereka. Selain itu, yang perlu digaris bawahi adalah.. Anak kita nggak sama kayak anak orang lain. Belum tentu jika anaknya yang mungkin kita sedang irikan karena ia penurut dll, belum tentu sama jika kita yang mengasuh.

Saya sering melihat orang tua yang mendidik anaknya dengan ilmu parenting cantik gemulai. Nggak ada kekerasan, nggak ada bentakan dan nggak ada pemaksaan. Pokoknya penganut sekte parenting halus dan curahan kasih sayang yang utuh.

Sementara menurut saya adalah, kasih sayang itu bukan hanya tentang ngasih yang enak-enak, melarang anak untuk "menderita" karena mungkin dulunya kita udah menderita. 

Saya mendidik anak penuh dengan kesadaran bahwa, hidup itu nggak selalu manis. Ayoo.. tak kenalin sekarang bagaimana nano-nanonya hidup itu. Penuh dengan warna dan gradasi yang berbeda-beda.

Belajar Dari Pengalaman

Pengalaman saya dalam cara mengasuh anak-anak bisa dibilang cukup banyak. Saya belajar dari keluarga China dan keluarga Jawa, keluarga Pebisnis, Dokter, Dosen bahkan keluarga dari seorang pecandu Narkoboy.

Otak kecil saya waktu itu udah menampung banyak hal yang seharusnya nggak boleh saya tampung. Hingga sekarang saya tersadar..

"Oooo.... begini sekarang hasil didikan mereka dulu"
"Ooooo... begini jadinya anak-anak yang mereka didik dengan keras"
"Jadi begini anak-anak yang hanya tau diurusin semua kebutuhannya, yang penting mereka tau beres gitu aja"

Semuanya sudah pernah saya lihat dan saya rasakan sekarang. Bahwa.. nggak semua larangan untuk anak-anak itu buruk untuk mereka Bahwa.. Segala hal yang kita biasakan sekarang untuk mereka, akan dirasakan saat mereka beranjak dewasa.

Bagiku dan Suami, Semua bisa dimaklumi.. Kecuali Tauhid dan Kejujuran Diri


Saya dan suami paling nggak mempermasalahkan apapun, kami bisa maklum dalam banyak hal kecuali soal Tauhid dan Kejujuran.

Pernah suatu waktu, Mas Kinza berbohong kepada kami, saat itu dia masih TK atau nggak kelas 1. Nggak seperti kebanyakan orang tua yang bisa memaklumi kebohongan seorang anak kecil, Abi justru marah besar dan tegas ngasih hukuman sama mas Kinza.

"Apa nggak kasian? Kan cuma anak kecil.."

Jangan ditanya kasian atau enggak, lebih kasian lagi nanti jika besar dia jadi seorang pembohong dan merugikan diri sendiri. Sambil memberikan peringatan, tentu kami menjelaskan bagaimana seorang pembohong hidup ditengah masyarakat. Nggak bakalan dipercaya lagi, nggak bakalan punya temen yang amanah dan udah pasti dibenci banyak orang.

Itukah yang dibilang sepele itu? Tentu ini bukan hal sepele. Ini menyangkut sebuah kebiasaan yang akan mereka bawa sebagai bekal hidupnya. 

Kami juga nggak pernah mengganti kata jangan dengan kata yang lebih halus seperti yang orang-orang perjuangkan. 

Lanjutannya besok ya.. Sudah ngantuk banget nih bund hahhaa.. Jadi intinya.. komentar orang lain itu nggak penting buat anak kita, yang penting adalah bagaimana kita memperlakukan anak-anak kita sebagai orang yang paling harus dididik, paling harus sering mengucapkan maaf dan terimakasih karena udah jadiin kita sebagai orang tua pembelajar.




Saturday, 22 June 2024

Tips Liburan Menyenangkan Bareng Anak

Beberapa waktu lalu saya ngajakin adek buat ikutan mudik di desa ibuk, karena dia berada di Surabaya dan mau main kerumah tapi saya harus mudik kerumah ibuk saya, akhirnya kami sama-sama berangkat naik ke Wonosalam, Desa kecil di Jawa Timur.

Udah tau kan, di desa itu internetnya kayak gimana, suka nggak ada sinyal dan bahkan kadang nggak bisa internetan sama sekali. Padahal, buat saya iternet itu udah kayak makanan sehari-hari, nggak boleh di skip.

Apalagi adek saya yang tinggal di Surabaya, nggak ada internet pasti kebingungan setengah mati hahha.

Tapi, saya rada heran kok adek saya ini bisa nyetel film nggak brenti-brentik, saya pikir pastilah dia udah download dirumah sebelum ke desa, tapi ternyata enggak, dia pake By.U. 

Dari pengalaman ini, saya akan berbagi tips gimana caranya nggak bosen waktu liburan di desa yang notabene aktifitasnya nggak sama kayak waktu dirumah. Berhubung sekarang musim liburan kan, jadi semoga pengalaman saya mudik tanpa bosan ini bisa membantu kalian mempersiapkan liburan dengan baik.

Tips Anti Bosan saat Liburan

Bikin Itinerary Liburan sebelum berangkat

Rencana perjalanan wisata ini menurutku penting banget dibuat sebelum berangkat liburan. Pasalnya tanpa itirerary, liburan yang bakalan di jalani apalagi bareng anak-anak akan kacau dan nggak terkosep. Dengan itirerary ini, kalian bisa memaksimalkan waktu liburan dengan baik.

Namun meskipun begitu, rencana ini juga harus menyesuaikan dengan situasi dan kondisi ya, apalagi anak-anak ini nggak bisa ditebak, kadang tiba-tiba demam atau malah kadang minta main tiba-tiba.

Nah memilih destinasi wisata yang ramah anak juga perlu banget ya.. Jangan sampai tempat wisata yang dikunjungi saat liburan malah bikin repot karena nggak ramah anak. Kolam renang ramah anak biasanya sudah tersedia dimana-mana, atau tempat-tempat dengan playground sederhana juga sudah menjamur dimana saja. Kalian bisa memilih itu.

Bawa Makanan kesukaan Anak

Eitt.. jangan lupa sama poin penting satu ini, makanan itu ibaratnya obat penenang buat anak haha.. Banyak anak-anak rewel karena nggak bisa makan makanan kesukaan mereka. Jangan sampai dong liburannya jadi kacau gara-gara nggak ada makanan kesukaan mereka.

Jangan lupa juga buat bawa makanan kesukaan ayah ibunya ya... Kan kita juga mau bersenang-senang tanpa gangguan.

Bawa Internet yang baik Buat Upload di Sosmed

Nggak bisa dipungkiri, sekarang internet tu udah kayak makanan sehari-hari. Udah saya bilang diatas, internet nggak bisa di skip waktu kita pergi kemana aja. Nah biar momen liburan bareng anak nggak hilang, makanya kita langsung upload ke sosial media. Yaaa.. sekalian gitu biar kayak yang lain, update ditempat liburan hehe.

Sebagai salah satu provider 5g indonesia, By.U emang udah menjangkau banyak tempat bahkan di pelosok sekalipun. Makanya saya saranin kalian siapin By.U sebelum bepergian. Dijamin liburan bareng anak bakalan jauh lebih seru.

Soo.. selamat berlibur ya teman-teman pejuang kebahagiaan anak.. Jangan lupa untuk selalu menjaga kesehatan.