Apakah kamu merasa merchandise yang kamu bagi-bagikan sudah benar-benar bikin orang ingat sama brand kamu? Kalau iya, syukurlah! Itu artinya kamu nggak cuma buang-buang anggaran. Tapi kalau ternyata barangnya cuma berakhir di tumpukan gudang atau tempat sampah... wah, sepertinya kita perlu duduk bareng dan ngobrol sebentar, tentu saja!
Bicara soal pemberian, saya jadi teringat masa-masa saya masih "irit" (baca: pelit) dulu. Saya pikir, asal harganya murah dan bisa dikasih ke orang, itu sudah cukup. Ternyata saya salah besar. Memberi itu ada seninya, apalagi kalau tujuannya untuk campaign jangka panjang sebuah brand.
Dari hasil pengamatan saya yang (mungkin) sedikit subjektif ini, banyak brand yang terjebak dalam lubang yang sama saat memilih merchandise. Alih-alih bikin pelanggan makin loyal, malah bikin citra brand jadi terlihat "murahan".
Ini dia 6 kesalahan yang sering saya jumpai:
1. Tergiur Harga Paling Murah
Dulu, saya kalau beli barang prinsipnya "seng penting murah". Tapi akhirnya malah cepat rusak dan bikin nyesek. Sama halnya dengan brand. Banyak yang asal import barang dari China karena harganya miring, tapi lupa cek kualitas. Kalau bahannya tipis atau cetakannya cepat kelupas, orang malah malas pakai. Ingat, merchandise itu investasi eksposur. Kalau awet, brand kamu bakal dilihat orang lebih lama.
2. Gak Kenal Siapa yang Dikasih
Ibarat kasih buku diary ke orang yang nggak suka nulis, ya pasti nggak kepakai. Merchandise buat mahasiswa sama profesional kantoran itu beda banget. Kalau targetmu orang kantoran, ya kasih yang elegan kayak custom tumbler atau notebook premium. Jangan asal kasih, biar nggak cuma jadi penunggu laci.
3. Barang Unik Tapi Nggak Guna
Dulu saya pernah merasa "eman" beli barang yang fungsional, malah beli yang aneh-aneh tapi cuma buat pajangan. Brand juga sering begitu. Pilih barang yang "wah" tapi nggak ada fungsinya di dunia nyata. Padahal, brand besar kayak Google lebih milih kasih hoodie atau botol minum. Kenapa? Karena bakal dipakai terus setiap hari!
4. Desain yang Terlalu "Berisik"
Ada brand yang pengennya logo segede gaban di tengah baju. Duh, jujur saja, itu bikin orang sungkan pakainya di tempat umum. Kita bukan papan reklame berjalan, lho. Belajarlah dari Apple yang desainnya minimalis. Logo kecil tapi ikonik itu jauh lebih berkelas dan bikin orang bangga pakainya.
5. Gak Punya "Benang Merah"
Campaign jangka panjang itu butuh konsistensi. Jangan tahun ini temanya warna-warni, tahun depan tiba-tiba jadi gotik tanpa alasan jelas. Konsistensi itu kunci biar orang selalu ingat (brand recall). Buatlah satu konsep besar yang berkelanjutan, misalnya soal produktivitas atau gaya hidup sehat.
6. Lupa Sama Nasib Bumi
Di tahun 2026 ini, orang makin peduli sama lingkungan. Kalau brand kamu masih hobi bagi-bagi plastik sekali pakai yang gampang rusak, citra brand bisa kena rapor merah di mata anak muda. Pilih bahan yang ramah lingkungan atau yang bisa dipakai berulang kali (reusable). Ini bukan cuma soal gaya, tapi soal tanggung jawab.
Memilih merchandise itu persis seperti cara saya belajar memaknai kebahagiaan: harus ada niat dan strategi yang tulus. Bukan cuma soal "barang gratisan", tapi soal pengalaman dan persepsi yang kita tanam di benak orang lain.
Seperti kata Kang Maman dalam buku Bahagia Bersama, berbagi itu tidak akan mengurangi. Tapi kalau dalam bisnis, pastikan berbaginya cerdas supaya brand kamu makin membekas di hati.




0 comments: