Thursday, 23 February 2017

Yang Paling Dekat Itu, Kematian

Dua hari yang lalu, saya dikejutkan dengan kabar meninggalnya suami seorang sahabat saya waktu di Bali, Mbak Nurul. Selama kenal dengan Mbak Nurul, saya menilai Mbak Nurul adalah pribadi yang ramah dan mudah sekali tersenyum. Selain itu, dia juga orangnya sedikit takut dengan hal-hal baru, mengambil keputusan-keputusan yang berbeda. Mungkin karena dia mudah sekali segan dengan orang lain atau memang begitulah dia, seorang yang sedikit kurang berani meskipun itu penuh adalah haknya. Itu dulu, mungkin sekarang dia sudah berbeda, saya sudah tidak pernah bertemu dengannya sejak meninggalkan Bali tahun 2013 lalu untuk menikah.



Saya pernah bertemu dengan suami mbak Nurul ini sepertinya hanya satu kali. Waktu itu, suaminya yang ngantar Mbak Nurul untuk Liqo'. Suaminya masih muda, masih berumur dibawah 40 tahunan gitu. Namun takdir memang tidak bisa kita rubah, termasuk juga dengan kematian. Saya membayangkan bagaimana kalau saya yang berada di posisi mbak Nurul saat ini, hanya bayangan saja saya bahkan kurang sanggup. Tapi apalah kita, meyakini dan mengimani takdir adalah salah satu Rukun Iman yang harus dipercayai sebagai umat Islam.

Kematianlah yang Paling dekat dengan Kita


Tanpa kita sadari bahkan kita lupakan, bahwa kematian kita sebenarnya yang paling dekat dengan kita. Banyak hal yang kita lupakan untuk mengumpulkan sebanyak mungkin bekal perjalanan setelah mati. Bahkan saya, saya sendiri belumlah maksimal, belum ada apa-apanya dalam masalah bekal ini. Berlomba-lomba dalam hal duniawi, iri kepada orang yang lebih kaya, iri kepada orang yang lebih pandai, buat apa? Iri kepada mereka yang punya kepribadian sholih, sholiha, penghafal Al-qur'an dan mereka yang memiliki ilmu agama serta tak pernah berhenti belajar tentang agama dan Al-Qur'an, bukankah seharusnya kepada mereka hati ini iri?

Kematian yang tak memandang umur, tak memandang keadaan serta kondisi. Jika sudah waktunya, saat itulah kita hilang dari dunia ini. Dan memikirkan esok saya akan mati, adalah jalan terbaik untuk melakukan hal-hal baik di dunia ini, semoga kita bisa menjalaninya.

Berbakti kepada Suami, Wajib

Satu lagi hikmah yang bisa saya ambil dari kematian suami sahabat saya ini adalah tentang pengabdian dan nurutnya kita kepada suami dalam hal apapun selama tidak menyalahi aturan agama. Entah saya dulu atau suami saya yang lebih dulu menghadap Allah. Setidaknya, pengabdian kita kepada suami adalah jalan yang gak bisa dirubah oleh apapun. Banyaknyaaaaa... istri-istri yang kurang nurut sama suaminya, gak patuh bahkan membantah padahal yang diperintahkan adalah kebaikan untuk agama dan keluarganya.

Dari yang lebih mementingkan karir, gak mau diatur sampai keegoisan tingkat tinggi yang menganggap wanita itu jauh lebih tinggi dari laki-laki [suaminya]. Saya pernah menulis di blog bahwa seorang wanita itu seperti budak apabila ia sudah menikah. Ya... Tentu saja artian budak ini bukan seorang pesuruh yang mau diinjak-injak begitu saja. Budak dalam artian yang harus nurut apapun kata suami. Bahkan sampai saat ini, saya belum mampu jadi "budak" yang nurut kepada suami saya. Semoga Allah memberi kesabaran kepada beliau dalam membimbing sikap bengkok ini.

Kesimpulan

Ada baiknya kita, mulai sekarang untuk berusaha bersikap baik dan nurut kepada suami, pelajaran kematian suami sahabat saya ini mungkin tidak ada pengaruhnya untuk kehidupan rumah tangga kita. Ah.. kematian, sudah biasa, mungkin begitu pikiran yang kita miliki. Tapi bagi saya, inti dari kejadian yang dialami oleh sahabat saya adalah, nurut kepada suami itu wajib, wajib hukumnya. Karena surganya seorang wanita yang sudah menikah adalah ridho suami, itu yang saya yakini hingga sekarang.

No comments:

Post a Comment