Sunday, 11 April 2021

10 Persiapan Menyambut Ramadhan 2021 agar Ibadah Lebih Khusyu

Berapa tahun yang lalu, setiap kali mendekati bulan suci Ramadhan, antusiasme umat Islam begitu terasa hingga mampu menimbulkan getaran di dalam jiwa. Namun kini, modernisasi membuat banyak umat Islam mulai melupakan tradisi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam (S.A.W) dalam menyambut bulan Ramadhan.

Ramadhan 2021


Bulan Ramadhan adalah bulan yang mulia. Di bulan ini, kita tidak hanya dianjurkan berpuasa sebulan penuh dengan menahan lapar dan dahaga sejak subuh hingga maghrib. Tapi juga bisa memaksimalkan untuk mengubah diri menjadi pribadi yang lebih baik.

Menyambut datangnya bulan Ramadhan, dan agar kegiatan ibadah di bulan suci ini bisa lebih khusuk, berikut beberapa persiapan yang perlu kita lakukan.

Persiapan Menyambut Bulan Suci Ramadhan

Bertaubat, memperbanyak berdoa, hingga berpuasa adalah beberapa persiapan yang kerap dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Selain beberapa persiapan seperti yang dicontohkan oleh Rasul, ada sejumlah persiapan lainnya yang juga diperlukan agar kegiatan ibadah bisa lebih lancar dan khusuk.

1. Bertaubat

Bertaubat sejatinya tidak hanya dianjurkan menjelang Ramadhan, tapi juga dianjurkan setiap saat karena manusia pada dasarnya tak pernah luput dari salah dan dosa.

Taubat menurut pengertiannya adalah, memohon ampunan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Agar taubat bisa diterima, tentu kita harus bersungguh-sungguh meninggalkan perbuatan-perbuatan dosa. Dan inilah yang disebut sebagai taubat nasuha.

Dengan bertaubat, ada kesempatan menghapus dosa, membersihkan hati, meraih cinta Allah, meraih keberuntungan, dan akan mengubah kita menjadi orang yang gemar melakukan amal saleh.

Karena itulah, bertaubat adalah salah satu cara terbaik menyambut datangnya bulan Ramadhan.

2. Perbanyak berdoa

Diantara doa yang diajarkan oleh Rasulullah dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan adalah doa mengharap panjang umur agar dipertemukan dengan bulan Ramadhan dan doa yang dapat memperkuat keimanan.

Doa menyambut Ramadhan yang pertama adalah doa memohon berkah di bulan Rajab dan Sya'ban serta doa memohon agar dipertemukan dengan bulan Ramadhan.

Berikut adalah doa menyambut bulan Ramadhan dalam bahasa Arab beserta artinya.

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجب وَشَعْبَانَ ، وَبَلغنَا رَمَضَانَ 

“Ya Allah Berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya'ban, dan sampaikan kami di bulan Ramadhan.”

Doa lain yang diajarkan oleh Rasulullah adalah:

اللَّهُمَّ أَهْلِلْهُ عَلَيْنَا بِاْلأَمْنِ وَاْلإِيْمَانِ وَالسَّلاَمَةِ وَاْلإِسْلاَم رَبِّيْ وَرَبُّكَ اللهُ هِلاَلَ رُشْدٍ وَخَيْرٍ 

Ya Allah, jadikanlah bulan ini (bulan yang membawa) keamanan, iman, keselamatan, keislaman (bagi kami), Tuhanku dan Tuhanmu (adalah) Allah, bulan petunjuk dan kebaikan. (HR. Turmudzi).

3. Mengganti Hutang Puasa

Pada bulan puasa yang lalu, adakalanya kita mendapatkan cobaan berupa musibah seperti sakit, atau melakukan perjalanan (musafir), atau bagi wanita ada yang haid dan nifas sehingga tidak bisa berpuasa.

Puasa-puasa yang ditinggalkan di bulan Ramadhan yang lalu. Harus diganti dengan puasa dalam jumlah yang sama seperti yang ditinggalkan atau membayar fidyah.

4. Menyambung tali silaturahmi dan bermaaf-maafan

Ada banyak faktor yang membuat kita kadang berselisih dengan keluarga sendiri, teman, atau tetangga, yang membuat hubungan tali silaturahmi terputus.

Memutuskan tali silaturahmi tidak dibenarkan dalam ajaran Islam. Karena itu, jika terlanjur pernah memutus tali silaturahmi. Maka, menjelang bulan Ramadhan ini adalah momen paling tepat untuk menyambung kembali tali silaturahmi yang sempat terputus.

Menyambung tali silaturahmi hukumnya wajib. Pasalnya, memutuskan tali silaturahmi sama artinya dengan memutuskan hubungan dengan Allah.

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ‏:‏ أَنَا الرَّحْمَنُ، وَأَنَا خَلَقْتُ الرَّحِمَ، وَاشْتَقَقْتُ لَهَا مِنَ اسْمِي، فَمَنْ وَصَلَهَا وَصَلْتُهُ، وَمَنْ قَطَعَهَا بَتَتُّهُ

Artinya: Allah Maha Besar dan Maha Kuasa berfirman. "Aku Adalah yang Maha Pengasih. Aku membuat ikatan persaudaraan dan memberinya nama dari nama-Ku. Maka, barang siapa mempertahankan ikatan silaturahmi, maka mempertahankan hubungan denganNya. Dan Aku akan memutus hubungan dengan siapa saja yang memutuskan silaturahmi." (kitab Al-Adab Al-Mufrad).

5. Perbanyak Puasa di bulan Syaban 

Salah satu sunnah Rasulullah menjelang bulan Ramadhan adalah memperbanyak puasa di bulan Sya'ban. Sesuai dengan hadis dari Aisyah r.a yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim yang artinya:

Dari Aisyah r.a. Ia menuturkan, “Rasulullah S.A.W biasa mengerjakan puasa, sehingga kami mengira bahwa beliau tidak pernah tidak berpuasa, dan beliau biasa tidak berpuasa, sehingga kami mengira bahwa beliau tidak pernah berpuasa. Akan tetapi, aku tidak pernah melihat rasulullahsaw berpuasa sebulan penuh, kecuali pada bulan Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa (sunnah) daripada puasa di bulan Sya'ban”. (HR. Bukhari & Muslim).

6. Install Aplikasi untuk Mendukung Ibadah

Persiapan menyambut Ramadhan 2021 yang tidak kalah penting lainnya adalah, menginstal aplikasi untuk mendukung kegiatan ibadah agar lebih lancar dan khusyu. Berikut adalah beberapa rekomendasi aplikasi yang kerap kita butuhkan di bulan Ramadhan.

  • Aplikasi Waktu Sholat. Selain akan mengingatkan kita waktu salat, aplikasi ini juga sangat bermanfaat untuk memudahkan kita bangun tepat waktu sahur, dan berbuka tepat waktu
  • Aplikasi Al-Quran dan terjemahannya. Ramadhan adalah momen paling tepat untuk memperbanyak tadarus atau membaca Alquran. Selain memperbanyak membaca Quran, ini juga merupakan momen paling tepat untuk mengkaji lebih dalam kitab suci tersebut. Karena Al-Quran sejatinya adalah pedoman hidup

7. Membuat Resolusi Selama Ramadhan

Ramadhan adalah bulan yang penuh ampunan dan bulan yang mulia, yang datangnya hanya setahun sekali. Agar tak menyesal di kemudian hari, membuat resolusi Ramadhan agar bulan mulia ini bisa dimanfaatkan dengan maksimal, adalah pilihan bijak. Beberapa kegiatan ibadah di bulan Ramadhan yang layak dijadikan sebagai resolusi di antaranya adalah:

  • Tarawih 30 hari
  • Tadarus hingga khatam minimal 30 juz
  • Belajar tajwid
  • Belajar fiqh
  • Tahajjud
  • Itikaf
  • Sedekah
  • Menambah hafalan Al-quran
  • Menambah hafalan do’a

8. Jauhkan diri dari dosa

Taubat adalah jalan bagi kita untuk memohon ampunan dan menghapus dosa. Jika sudah bertaubat, akan sangat tepat apabila kita menjauhkan diri dari perbuatan dosa.

Di era modern ini, teknologi adalah bagian dari hidup kita yang paling sering menuntun kita ke jurang dosa. Beberapa contoh pintu dosa yang kerap tanpa sadar kita kerjakan di antaranya adalah:

  • Mendownload atau menyimpan musik serta film bajakan
  • Memainkan game-game dengan karakter seksi yang berpotensi menjadi ladang zinah mata hingga dapat membangkitkan syahwat
  • Mengumbar keburukan atau aib orang di status
  • Mendengar, menonton (di Youtube) dan membaca berita-berita yang berkaitan dengan aib orang lain

9. Beli perlengkapan ibadah

Perlengkapan ibadah seperti mukena, sarung, peci, hingga Al-quran dapat dibeli menjelang Ramadhan untuk menambah semangat dan kelancaran beribadah.

10. Beli baju lebaran lebih awal

Mengenakan pakaian terbaik ketika shalat Idul Fitri sudah menjadi tradisi di Indonesia. Karena itu, tak mengherankan apabila banyak masyarakat yang kerap terlihat membeli baju lebaran menjelang lebaran.

Sayang, berbelanja menjelang lebaran seringkali membuat kita lebih boros. Karena harga pakaian seringkali naik. Agar tidak boros, jika ingin beli gamis baru untuk menyambut lebaran, ada baiknya kamu berbelanja lebih awal.

Sunday, 4 April 2021

 Pengalaman Naik Pesawat Bersama 2 Bayi

Naik pesawat dengan 2 bayi sekaligus adalah pengalaman baru untuk saya. Bukan.. Mereka bukan bayi-bayi saya, tapi bayi adik ipar saya. Perjalanan mudik dari Jawa ke Kalimantan ini merupakan acara liburan bareng adek ipar yang ingin manfaatin waktu cuti melahirkan yang dia punya.



Karena mungkin waktu 3 bulan itu lumayan banget buat tinggal dirumah aja, makanya ia gunakan buat mudik ke rumah orang tuanya. Biasanya sih orang tua yang datang ke Jawa, tapi Qodarullah.. Mama mertua sedang sakit yang belakangan kita tahu ternyata terkena Covid (hasil pemeriksaan reaktif setelah sakit lebih dari 2 minggu dengan gejala batuk tak berhenti, panas dingin bergantian, dan gak nafsu makan)

Awalnya ada sedikit drama karena sakitnya mama bukan bagian dari rencana saat akan pulang. Biasanya, mama mertua orang yang paling ceria dan sehat sepanjang waktu. Memang kalau sudah takdir dari Allah, kita tidak bisa mengundur ataupun menundanya. Untuk cerita tentang Covid dan dunia Corona di Kalimantan akan saya ceritakan di postingan lain ya.. 

Pengalaman melakukan perjalanan dengan Bayi

Awalnya, adik saya berangkat lebih dulu bareng anak saya Kinza karena saya harus menghadiri pernikahan adek sepupu di Jawa. Namun, suaminya harus pulang lebih awal karena akan ada ujian di kampusnya.

MasyaAllah.. Nampaknya perjalanan saya kemarin adalah perjalanan yang sungguh luar biasa. Berikutnya Saya bersama dua anak lelaki saya Kinza (7 tahun) dan Zayn (3,5 tahun) bareng dengan suami dan adek ipar saya dengan dua bayi Ula (1,5 tahun) dan Elman (3 bulan) tanpa suami adik ipar.

Sebenarnya, saya sudah membayangkan akan banyak drama saat perjalanan pulang. Mengingat situasi kami yang berangkat dari rumah selepas subuh sekitar pukul 06.00 WITA. Di jam ini, bayi-bayi harus sudah ready buat pergi karena pesawat kami pukul 17.30 WITA.

“Kok pagi banget sih berangkatnya? Kan masih nanti sore?”

Bhaikkkk.. Sekarang saya jelaskan gimana jauhnya rumah orang tua kami dari Bandara.

Desa Padang Pengrapat, Tanah Grogot, Paser adalah tempat orang tua kamu tinggal. Kami harus melakukan perjalanan ke Penajam Paser Utara untuk nyebrang menuju Balikpapan. Dari Tanah Grogot menuju Penajam membutuhkan waktu sekitar 5 jam dengan kecepatan standar tanpa berhenti.

Berhubung kita bersama bayi, belum sarapan juga jadinya kita harus menyesuaikan dengan keadaan yang ada. Berhenti untuk makan atau sekedar rehat karena bayi bayi rewel sudah diantisipasi.

Sebenarnya waktu berangkat tidak begitu heboh ya, karena bayi-bayi masih fit dan belum capek. Kami bertiga bergantian menggendong Ula dan Elman karena mereka sibuk rebutan “nen” alias mimik Asi Umminya, bhaikk.. Sampai sini pasti paham. Ini tidak begitu repot karena masih ada mama mertua yang gantiin. Sementara anak saya Zayn juga lumayan ribet sementara Abi-nya nyetir mobil. 

Zayn memang begitu, dia susah sekali di alihkan perhatiannya, kalau sudah mau A ya A. Apalagi dia sempat muntah karena mungkin belum sarapan. Makanya, waktu Ayah mertua mengambil alih kemudi, saya merasa tenang karena Zayn bisa diatasi Abinya.

Drama Dimulai Saat naik Ferry menuju Pelabuhan Kariangau

Hujan yang tak berhenti disepanjang perjalanan kami menuju Penajam membuat suasana makin galau. Tidak masalah kami yang tua-tua kehujanan, tapi bayi-bayi tidak boleh kehujanan. 

Untungnya, di mobil Ayah ada 3 payung yang sebenarnya saya juga heran, kenapa ada banyak sekali payung yang berada di lain tempat. Salut buat Ayah yang tidak terduga haha. Kami sempat menolak diantar oleh Mama dan Ayah sampai pelabuhan Kariangau di seberang sana. Mengingat mama masih dalam masa pemulihan yang masih nggak boleh terlalu capek.

Namun, akhirnya saya bersyukur banget karena beliau mendampingi kami sampai seberang.

Di Kariangau Nggak ada Grab yang Mangkal

Waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 WITA, kami menuju ruang tunggu untuk melanjutkan perjalanan berikutnya. Tujuan kami adalah Rumah Sakit TNI AL Dhomber untuk melakukan tes antigen. Ya.. sekitar 1 jam perjalanan dari pelabuhan.

Awalnya yang santai karena mengira bakalan nemu langsung Grabber yang stay di pelabuhan, akhirnya adrenalin kita kembali diuji, Nggak ada grab! Tidak ada satupun driver dalam jangkauan, ada sekitar 30 menit kami galau disana. Tapi adek saya pinter juga, dia ubah pin buat nyari grab car nya. Qodarullah.. Ada grab yang barusan ngantar penumpang menuju pelabuhan.